Lintas Daerah News Redaksi

Renungan Hari jum’at di tahun baru Hijriyah 1442.

Penajournalis.com, Bandung – 21/ Agustus/ 2020

Fitrah setiap Manusia pada dasarnya ditakdirkan menjadi seorang Pemimpin, minimal memimpin dirinya sendiri.

Keputusan dan kebijakan Pemimpin, tidaklah berakhir pada rumus-rumus kaidah filsafat yang universil dan abstrak, yang dilepaskan mengapung di awang-awang untuk di lihat dan dikagum-kagumi atau dalil-dalil theologi untuk dikunyah-kunyah sambil duduk manis. tetapi harus mampu “menghidupkan kesempurnaan “ manusia sehingga benar-benar hidup, mampu membina pribadi sebagai “social being‘ mencetak ummat yang mempunyai corak dan tujuan hidup yang tentu. Hidupnya berisikan amal yang shalih, pancaran iman; kedua kakinya terpancang di bumi , jiwanya menjangkau langit.

Namun apa yang terjadi ???
Fenomena Virus Corona melahirkan ahli2 dadakan sebagai pesaing para Dokter, para ahli kesehatan, bahkan para ahli Virus sekalipun,
Fenomena Kebencanaan melahirkan ahli2 dadakan sebagai pesaing para ahli bidang kebencanaan,
Ketahanan Pangan melahirkan ahli2 dadakan sebgai pesaing para petani bahkan para ahli di bidang pertanian,
dan sebagainya bahkan dapat dipastikan disetiap Fenomena para ahli dadakan selalu hadir.

Bukan tidak boleh berkeinginan menjadi seorang Ahli, tapi seperti kata Orang bijak “Serahkan segala sesuatu pada ahlinya”. Seahli, sehebat, dan sejenius apapun kita “Musyawarah Mufakat” harus tetap menjadi prioritas sebagai upaya membina pribadi sebagai “social being‘ mencetak ummat yang mempunyai corak dan tujuan hidup yang tentu.

Hilangnya kesadaran Manusia untuk senantiasa mengasah kemampuan membina pribadi sebagai “social being‘ mencetak ummat yang mempunyai corak dan tujuan hidup yang tentu, apakah ini bukti hilangnya kesadaran manusia akan fitrahnya sebagai pemimpin atau memang benar2 sedang terjadi krisis kepemimpinan sehingga tidak ada figur sebagi manifestasi seorang pemimpin???

Wallohu alam bishawab.

Soeparno

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.