Karya JurnalistikNewsRagamRedaksi

Koperasi, Masa Depan Ekonomi

373
×

Koperasi, Masa Depan Ekonomi

Sebarkan artikel ini

Penajournalis.com. Pemerintah mengumumkan bahwa kita diambang (padahal sudah) resesi. Lalu, apa yang dilakukan pemerintah? Kita ketahui bersama semua sektor ekonomi tiarap. Bahkan sektor andalan terakhir kita, konsumsi. Covid -19 meng-KO pemerintah dengan telak. Penerimaan pajak? Ambyar!

Sudah banyak pihak yang bicara bahwa kemungkinan sektor pertanian dan perkebunan, dapat menjadi pegangan menghadapi turbulensi ekonomi ini.

Lalu, bagaimana langkah yang diambil? Terang benderang masih berupa gimmick, realisasinya masih mengacu pada cara-cara proyek. Padahal, yang dibutuhkan adalah kebersamaan.

Saya coba gogling sejak pertama kali berita mengenai proyek “Food Estate” yang dikerjakan Kementrian pertanian dan Kementrian Pertahanan, hingga hari ini realisasi di lapangan tidak sebesar yang digaungkan media.

Dan, saya pun bagian dari banyak orang yang meragukan atau bahkan tidak setuju dengan proyek itu. Dampak mikro, ke petani-nya, sangat kecil.

Bagi saya, proyek itu tak lain hanya untuk cari perhatian ke investor asing saja, pemerintah memberikan kemudahan satu paket dengan “Omnibus Law” untuk mengiming-iming calon investor. Membuka lahan baru dengan luasan 30.000 hektar yang hanya akan ditanami singkong (food estate).

Tentunya, harus ada serapan hasil panennya nanti, singkong sebagai bahan baku produk turunan. Maka, sudah pasti akan didirikan pabrik.

Pertanyannya, butuh waktu berapa lama? Lahan yang baru dibuka itu baru dapat optimal setelah minim 2 (dua) tahun. Untuk lahan ditanami singkong, artinya 2 kali masa panenen. Calon investor paham betul hal itu.

Pemerintah lagi-lagi masih berkutat pada cara-cara itu saja; menjaring investor. Kita sepakat bahwa Investasi asing itu penting, akan tetapi tentunya bukanlah segala-galanya.

Bukankah, semua negara di dunia saat ini juga memikirkan hal yang sama; mencari investor dan pinjaman. Bisakah kita bersaing?

Padahal, dalam penangan situasi Pandemi ini saja kita dikesankan gagap, lalu bagaimana mungkin mereka berani berinvestasi dalam situasi ketidak pastian ini.

Sebenarnya bank-bank besar kita masih punya likuiditas, namun ragu tuk menyalurkan. Maka pemerintah sudah seharusnya men-jembatani antara bank dengan petani, melalui Koperasi.

Bahkan sesungguhnya masyarakat pun masih banyak yang memiliki uang, namun mereka menahan; takut ber-investasi, takut ekspansi, takut belanja dan lebih memilih diam di rumah saja.

Tentunya disitulah peran koperasi agar terjadi belanja produktif. Berikan harapan riil pada masyarakat, pemerintah harus kembali meng-kampanyekan pentingnya ber-koprasi.

Sebagian besar masyarakat kita sudah sangat memahami apa itu koperasi dan ber-koprerasi. Tentunya, hal itu akan lebih memudahkan pemerintah untuk menggerakkan kembali.

Koperasi itu masa depan, yang nantinya banyak pihak telah memprediksi akan menggantikan peran Bank. Maka, saat inilah momentumnya.

Oleh: Okky Ardiyansyah

Penggiat Berkarya Network

( Mariska Lubis )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *