oleh

Mimbar Dakwah : Makna dan Tingkatan Shaum Oleh Cepi Nurzaman

Penajournalis.com – Mimbar Dakwah dibulan Ramadhan, makna dan tingkatan Shaum
Oleh : Cepi Nurzaman

Bismillahirrahmanirrahim
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى الْيَوْمِ الَّذِيْ نَلْقَاه
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
أمّا بَعْدُ

Hadirin Rohimakumullah

Puji kita serahkan kepada sang pemberi rizki Allah Robbul izzati, puja kita serahkan kepada sang penguasa alam semesta Allah azza wa jalla, rasa syukur kita serahkan kepada sang pengatur umur Allah Robbun Ghofur.

Sholawat serta salam semoga dilimpahcurahkan kepada baginda penerima Al-Quran nabi Muhammad SAW. Dan juga kepada keluarganya, para sahabatnya, para tabiinnya, dan mudah-mudahan sampai kepada kita semua selaku umatnya yang senantiasa mengikuti jejak langkahnya. Aamiin.

Hadirin Rohimakumullah

Marhaban ya Ramadhan tak terasa kita sudah berada di bulan Ramadhan, bulan yang agung, bulan yang penuh berkah, bulan yang sangat di nanti-nanti oleh seluruh Umat Islam. Pada hari ini seluruh umat Islam secara bersamaan memulai melaksanakan ibadah Shaum di bulan Ramadhan. Kita berdoa mudah-mudahan Allah memberikan kesehatan dan kekuatan (hidayah dan inayah) supaya kita bisa istiqomah melaksanakan ibadah shaum dari awal sampai akhir Ramadhan. Aamiin.

Hadirin Rohimakumullah

Pada kesempatan khutbah kali ini saya akan menyampaikan tentang “makna Shaum dan tingkatan-tingkatan Saum.” Penyebutan Nama Saum ada dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 183, yang juga merupakan dalil wajibnya saum di bulan Ramadhan, yang bunyinya sebagai berikut :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“ Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepada kalian ibadah saum sebagaimana telah diwajibkannya kepada orang-orang sebelum kalian supaya menjadi orang-orang yang bertaqwa”. ( QS. Al-Baqarah:183 )

Kemudian masih dalam surat A-Baqarah ayat 185, yang merupakan dalil bahwa mulai melaksanakan Shaum setelah menyaksikan Bulan (hilal), yang berbunyi ;

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ

“ Barang siapa yang menyaksikan bulan (awal bulan Ramadhan), maka bersaumlah. (QS. Al-Baqarah:185)

Hadirin Rohimakumullah

Apa Makna Shaum ?
Secara Bahasa Shaum adalah bentuk Masdar yang diambil dari akar kata : صام – يصوم – صوما yang mempunyai makna imsak artinya menahan.

Sedangkan menurut istilah adalah :

الامساك عن الاكل والشرب وغشيان النساء من الفجر الى المغرب احتسابا لله واعدادا للنفس وتهيئة لها لتقوى الله

“Menahan diri dari makan, minum, dan bercampur dengan istri dari mulai terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat karena Allah, dan merupakan persiapan dan latihan untuk meningkatkan kualitas taqwa kepada Allah” (al-Manar,2:152)

Yang menjadi penekanan dalam definisi ini, yang pertama saum itu harus karena Allah احتسابا لله yang kedua saum itu sebagai persiapan dan latihan kepada diri supaya mampu meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Hadirin Rohimakumullah

Dalam melaksanakan ibadah shaum, Rasulullah telah bersabda :

من صام رمضان ايمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
“ Barang siapa yang melaksanakan saum ramadhan atas dasar iman dan karena Allah niscaya di ampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (H.R. Bukhori )

Syarat ibadah saum di terima oleh Allah adalah ايمانا واحتسابا, kemudian dalam pelaksanaan ibadah saum, tidak cukup hanya dengan menahan diri dari makan dan minum dan bercampur dengan istri saja, tapi kita harus mampu menahan panca indra seperti pendengaran, penglihatan dan yang lainnya dari sesuatu hal yang di larang oleh Allah SWT. Sebagaimana nasehat seorang sahabat :

اذا صمت فليصم سمعك وبصرك

“jika kamu berpuasa , maka berpuasalah pendengaranmu dan penglihatanmu.”

Hadirin Rohimakumullah

Menurut Imam Ghozali ada 3 tingkatan Saum

Pertama Saum Umum, yaitu :

فهو كف البطن والفرج عن قضاء الشهوة.

“Menahan perut dan kemaluan dari memenuhi kebutuhan syahwat.”

Ada orang melaksanakan saum sekedar menahan diri dari makan dan minum, tetapi perbuatan maksiat tetap dilakukannya. Inilah saum orang orang yang awam. Karena mereka mendefinisikan saum itu hanya sebatas menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan secara dzahirnya saja.

Yang kedua Saum Khusus yaitu :

فهو كف السمع والبصر واللسان واليد والرجل وسائر الجوارح عن الاثام

“Menahan telinga, pendengaran, lidah, tangan, kaki dan seluruh anggota tubuh dari dosa.”

Ini termasuk saumnya orang-orang sholeh, karena sudah ada peningkatan dari saumnya orang awam, karena mereka sudah paham bahwa saum itu tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi mampuh menahan diri dari melakukan dosa dan maksiat.

Yang ketiga saum yang paling khusus

فصوم القلب عن الهضم الدنية والافكار الدنيوية وكفه عما سوى الله عزوجل بالكلية ويحصل الفطر فى هذا الصوم بالفكر فيما سوى الله عز وجل واليوم الاخر

“Menahan hati agar tidak mendekati kehinaan, memikirkan dunia, dan memikirkan selain Allah SWT. Untuk saum ketiga ini di sebut batal bila terlintas dalam hati pikiran selain Allah SWT dan hari akhir.”
Inilah tingkatan saum yang paling tinggi dan jarang orang – orang yang bisa sampai pada tingkatan ini, karena mereka selain menahan lapar dan haus dan menahan diri untuk tidak bermaksiat, mereka juga memfokuskan fikirannya untuk selalu mengingat Allah SWT dan pikiran terhadap dunia dianggap merusak dan membatalkan saum.

Hadirin Rohimukumullah

Ada di posisi manakah kita semua dalam melaksanakan ibadah saum ini, apakah termasuk saum umum, saum khusus atau saum paling khusus ? tentu hanya kita semua yang tahu jawabannya, maka kita harus selalu berusaha meningkatan kualitas ibadah saum kita dari tahun ke tahun harus ada peningkatan supaya kita termasuk orang yang beruntung.

Mungkin hanya ini yang bisa saya sampaikan tentang makna saum dan tungkatan-tingkatan saum yang akan menjadi wawasan keilmuan bagi kita semua dalam pelaksanaan ibadah saum
Mudah-mudahan khutbah ini bermanfaat bagi kita semua. Aamin ya Rabbal Alamien.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ. (Beni)

Gambar Gravatar

Asep Nana , Seorang Jurnalis Senior Kawakan di Jawa Barat dengan segudang Prestasi yang menakjubkan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.