BeritaGMOCT (Gabungan Media Online dan Cetak Ternama)Hallo PolisiLintas DaerahLintas ProvinsiNewsPena Journalis

Toko Obat Keras di Gunung Batu Kembali Beroperasi, Warga Sukaraja Resah

207
×

Toko Obat Keras di Gunung Batu Kembali Beroperasi, Warga Sukaraja Resah

Sebarkan artikel ini

Penajournalis.com Bandung, 28 Maret 2025 – Kecemasan kembali menyelimuti warga Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung. Toko obat di Jalan Gunung Batu No. 73, yang sebelumnya sempat ditutup karena diduga menjual obat-obatan keras golongan G secara ilegal, kini kembali beroperasi.

Toko tersebut diduga menjual obat-obatan seperti Tramadol, Trihexyphenidyl (Trihex), dan Eximer tanpa izin resmi. Keresahan warga ini telah mencuat ke permukaan sejak 16 Maret 2025, dan diberitakan oleh beberapa media online, termasuk Timespublik.com dan Infolensanews.id.

Menanggapi pemberitaan tersebut, pihak kepolisian, khususnya Polsek Cicendo, melalui Kapolsek Kompol Dadang, menyatakan akan menindaklanjuti laporan tersebut dan mengirimkan tim ke lokasi. Kompol Dadang juga menyarankan agar pihak kelurahan dan kecamatan, khususnya petugas Trantib, turut dilibatkan dalam penyelidikan.

Tindakan kepolisian tersebut membuahkan hasil, toko obat tersebut sempat ditutup. Namun, kegembiraan warga tak berlangsung lama. Toko tersebut kembali beroperasi seperti biasa, memicu kecurigaan dan kekecewaan warga terhadap lemahnya pengawasan dari aparat penegak hukum (APH).

“Saya heran, kenapa bisa buka lagi? Padahal sudah jelas-jelas ditutup sebelumnya. Apa memang ada yang melindungi?” ungkap seorang warga yang enggan disebutkan namanya, Kamis (27/3/2025).

Keberadaan toko obat yang diduga menjual obat-obatan terlarang ini menimbulkan kekhawatiran akan dampak negatifnya terhadap generasi muda di lingkungan sekitar. Warga berharap agar kepolisian dan instansi terkait segera mengambil tindakan tegas dan permanen untuk menutup toko tersebut, serta menindak tegas pihak-pihak yang terlibat dalam peredaran obat-obatan ilegal ini. Keberadaan toko ini menjadi sorotan dan menimbulkan pertanyaan besar tentang efektivitas pengawasan peredaran obat-obatan di wilayah tersebut.

Levi

Editor: Asep NS 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *