Penajournalis.com JAKARTA, Selasa 8 September 2026 — Pemerintah menyiapkan teknologi water mist sebagai instrumen mitigasi menghadapi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, terutama ketika kondisi atmosfer tidak mendukung terbentuknya awan hujan dalam pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah ini dinilai memiliki dasar teknis, namun pengamat kebijakan publik Samuel F. Silaen mengingatkan agar efektivitasnya tidak disimpulkan hanya dari perubahan tampilan udara yang terlihat mata telanjang.
Bukan “Sapu Langit”, Melainkan Salah Satu Instrumen Mitigasi
Samuel menilai langkah pemerintah patut diapresiasi, asalkan ditempatkan sebagai salah satu instrumen mitigasi — bukan solusi tunggal.
“Lebih tepat water mist dipahami sebagai salah satu instrumen mitigasi, bukan ‘sapu langit’ yang mampu menghapus abu vulkanik dari atmosfer.” — Samuel F. Silaen
Secara prinsip fisika, tetesan air memang dapat membantu menangkap sebagian partikulat di udara sehingga lebih mudah mengendap. Namun atmosfer bukan ruang laboratorium — di alam terbuka, kecepatan angin, kelembapan, dan ukuran partikel berubah secara dinamis. Partikel halus dapat bertahan lama dan terbawa jauh, sehingga udara yang tampak bersih belum tentu konsentrasi partikulat benar-benar turun secara signifikan.
“Jangan sampai muncul persepsi bahwa begitu water mist disemprotkan, persoalan abu vulkanik otomatis selesai. Itu tidak sesederhana itu.”
Efektivitas Harus Terukur, Bukan Asumsi
Samuel meminta pemerintah menyajikan data pengukuran objektif sebelum dan sesudah operasi. Parameter yang harus diukur mencakup konsentrasi partikulat, distribusi ukuran partikel, arah-kecepatan angin, kelembapan, serta cakupan wilayah penyemprotan. Tanpa data, kesimpulan hanya berdasar asumsi.
Ia juga mengingatkan bahwa water mist tidak membuat abu lenyap, melainkan membantu mengendapkannya ke permukaan — yang berarti persoalan berpindah ke daratan. Abu yang sudah turun dapat kembali terangkat oleh angin, sehingga penanganan harus mencakup keseluruhan siklus, bukan hanya dari udara.
“Abunya tidak lenyap begitu saja. Ketika turun ke jalan, kendaraan, bangunan atau tanah, persoalannya berpindah ke permukaan.”
Bukan Pengganti Hujan, Butuh Sistem Berlapis & Terintegrasi
Water mist tidak tepat disebut pengganti hujan. Hujan memiliki mekanisme dan cakupan yang berbeda. Yang dibutuhkan adalah sistem mitigasi berlapis berdasarkan kondisi atmosfer.
Kunci keberhasilan lainnya terletak pada integrasi data dan koordinasi antarlembaga: PVMBG memantau aktivitas gunung, BMKG membaca dinamika atmosfer, BNPB menangani aspek kebencanaan — didukung pemerintah daerah, sektor kesehatan, dan keselamatan penerbangan — semuanya harus berada dalam satu sistem yang terpadu.
“Jangan sampai masing-masing bekerja sendiri. Transparansi hasil pengukuran akan lebih kuat daripada sekadar klaim keberhasilan.”
Masyarakat Tetap Waspada, Teknologi Bukan Jaminan Hilangnya Risiko
Di tengah penggunaan teknologi, masyarakat diminta tetap waspada, menggunakan masker dan perlindungan mata, serta membatasi aktivitas luar ruangan saat konsentrasi abu meningkat.
Samuel menegaskan pendekatan tidak boleh hitam-putih — pasti berhasil atau pasti gagal. Yang harus dijawab adalah: pada kondisi seperti apa efektif, terhadap partikel ukuran berapa, di wilayah mana, dan berapa lama penurunannya terukur. Data itulah yang menjadi dasar memperluas, memperbaiki, atau mengevaluasi penggunaan water mist.
“Intinya, jangan menjual harapan teknologi kepada masyarakat. Gunakan teknologi, ukur hasilnya, evaluasi, kemudian perbaiki.”
Red/Erik
Editor: Asep NS
#AnakKrakatau #WaterMist #AbuVulkanik #MitigasiBencana #OMC #SamuelSilaen #PVMBG #BMKG #BNPB #Kebencanaan















