
“ADAKAH KAU SEPERTI AKU SAAT ITU?” UNGKAP DARI PEJUANG BANGSAMU
Saat ini kulihat negaraku lagi dirundung bencana, yaitu bencana pandemi Covid-19, kudengar dan kulihat ribuan anak negeriku meninggal, apakah kau masih sangkal dan memungkiri semua ini?
Dalam benakku, saat ku duduk hening ku teringat saat-saat ku rebut tanah airku dari penjajah
Bagaimana keterbatasanku melawan penjajah pada saat itu? bukan hanya senjata, pikiran, yang harus ada untuk melawan mereka, tapi sifat kokoh yang tertanam yang membikinku kuat untuk melawan penjajah, yaitu dengan jalan mempersatukan dari semua elemen untuk melawan mereka dan tidak membedakan suku adat dan budaya untuk merebutnya dari tangan penjajah, satu tekad bergotong royong senantiasa bersatu saat itu
Dari detik-detik mulai dari tanggal 1 Agustus sampai 17 Agustus sampai tersiar proklamasi itu adalah masa-masa sulit, dari tanggal 1 Agustus semua elemen masyarakat dari sabang sampai merauke merasakan dari keterbatasan ekonomi dan patriot bangsa saat itu banyak yang terkena sakit, luka, akibat gencatan senjata untuk merebut NKRI yang kita cintai

Saat heningku di saat ini ku teringat masa lampau itu, dari sisa umurku saat ini, dari masa Pandemi ini kuteringat perjuanganku tapi tak seberat masa itu saat kurebut dari penjajah
Masa pandemi Covid-19 ini, saat teriakan, sulitnya ekonomi, kurangnya obat-obatan, bagi penderita Covid-19 itu, ingatanku tumbuh seperti saat aku berjuang dulu, tapi ku tersadar bahwa gotong royong itu adalah wujud kekuatan yang ampuh ketimbang sebilah senjata atau pusaka untuk melawan bencana ini
PPKM disuarakan akan diperpanjang, susahnya ekonomi, susahnya pendapatan, pro kontranya ketentuan padahal itu adalah upaya kemanusiaan seperti saat-saat aku perjuangkan negeriku NKRI ini
Disitulah aku teringat bahwa gotong royong, bersatu untuk melawan semua ini (pandemi), hanya satu cara, saling berjiwa taat, saling melawan, supaya kita bisa mampu lepas dari semua ini
Tapi ku tersentak, adakah yang memikirkan perjuanganku saat itu? dengan susah, keringat, darah dan nyawa, jika dibandingkan seperti saat ini yaitu melawan Covid-19, akankah kau tak teringat akan perjuanganku di detik hening dan gerilyaku dari tanggal 1 sampai 17 Agustus sampai tersiar proklamasi
Jadi pemuda-pemuda bangsaku seakan kikis saat ini, dari kebersamaan, gotong royong, saling taat satu komando, saling menempatkan posisi-posisi strategis pada saat itu untuk merebut NKRI, di posisi PPKM ini (pandemi Covid-19) 3 Agustus, ku termenung, adakah jiwa-jiwa yang seperti jiwa-jiwaku dan jiwa-jiwa pendahuluku, untuk gigih hati mencintai bangsa ini karena kibaran bendera merah putihku sudah mulai jarang akibat perang Covid-19 ini, padahal perang ini tak sedahsyat perang melawan penjajah saat itu
Apakah sudah pudarkah jiwa-jiwa patriotisme bangsaku? saat kupandang dari desa ke desa kibaran bendera sang saka merah putih sudah berkurang, dan di bandingkan ekonomi yang terdepan bagi mereka saat ini, hingga kau lalai akan detik-detik perjuanganku dari 1 Agustus hingga 17 Agustus, pudarkah semua itu? Mana terimakasihmu padaku? untuk selalu menjaga Pancasila Bhinneka Tunggal Ika dan sang saka merah putih yang telah ku perjuangkan hingga kibarannya tak terlihat di pandangan mataku saat ini 3 Agustus 2021 hingga menjelang 17 Agustus 2021
Kulihat medali emas di 2 Agustus di olimpiade yang diraih oleh pahlawan Indonesiaku saat ini, terketuk jiwaku dari tuaku, saat Soekarno memproklamasikan kemerdekaan 17 Agustus, sorak sorai rakyat bangsaku yang tidak memandang ras, suku, golongan, menyatakan MERDEKA.. MERDEKA..
Kulihat anak bangsaku saat ini redup akan jiwa patriotisme dan nasionalisme, hanya dengan perpanjangan PPKM mereka saling tuding, saling mencemooh satu dengan yang lain, merasa benar diantara satu dengan yang lain, hingga taat satu komando itu tak terbentuk, tak seperti masa-masaku satu komando di detik-detik 1 Agustus hingga saat 17 Agustus PROKLAMASI itu dicanangkan
Apa ini kemunculan lawan yang sebenarnya adalah saudara-saudara kita sendiri, saat pemerintah berupaya memperjuangkan kemanusiaan dari adanya bencana Covid-19, karena engkau tak mau bersatu melawan ini
Ku murung, ku sedih, saat pemuda bangsaku terkontaminasi oleh adat budaya lain yang senantiasa melawan bangsa sendiri
Kau tak berjuang, kau tak melawan, kau tak meneteskan darah keringat dan air mata saat itu, seperti yang kulakukan saat kurebut dari penjajah, tapi kau koyak negaraku, kau caci maki negaraku yang kudirikan atas kesepakatanku dengan pendahulu pendiri bangsaku, sadarlah pemuda pemudi bangsaku, kembalilah ke jati dirimu, adat dan budayamu, kukuhkan dalam wujudmu, tetapkan iman dalam jiwamu, nyatakan kau mampu menjaga Indonesiaku
Sudahi pertikaian, sudahi kecemburuan, sudahi fitnah, tetaplah kau berdiri dan kutitipkan Indonesiaku
17 Agustus proklamasi kulahir dan kuhadiahkan untukmu, selamanya.. MERDEKA!!
by: Wirodirjo, Tumijan, Trunokromo Marem dan Tim Sriti
Reclasseering Indonesia Tim 41
SIAPAKAH YANG PERLU DILAWAN??
Yang perlu dilawan itu adalah KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang membuat ricuh, bukan kebijakan pemerintahnya yang dilawan, tapi ketidak beresan Bansos dan bantuan-bantuan lain dari pemerintah itu yang harus dilawan.
Upaya pemerintah untuk membantu kemanusiaan (penerapan PPKM) harus didukung, bukan malah dibully dan dilawan, bukan alasan sulitnya ekonomi, karena kesulitan ekonomi semua rata merasakan.
Kemenangan medali emas di olimpiade kemarin sebagai hadiah ulang tahun ke 76 untuk negara Indonesiaku yang kucintai ini adalah bukti dan wujud bahwa negaraku tercinta Republik Indonesia ini tidak memandang suku ras dan golongan, karena keduanya terlihat berbeda ras namun berjuang bersama untuk membesarkan negaraku Indonesia tercinta.
#PresidenJokowidodo,#Veteran,#Kepalastaffkepresidenan,#Moeldoka,,#Kemekopolhukam,#Mendagri,#Kapolrilistyosigitprabowk,#PanglimaTNI,#Reclasseeringindonesia007khusus,#Kemendagri,#KPK,#Beritaistana.idn,#Ganjarpranowo,#Gubernurjatim,#BupatiMalang,#Kapolrezmalang Radenwibisonohandoyokusumah
(Basirun)
















