Lintas ProvinsiNews

BMKG DAN BNPB : Waspada Bencana Banjir Bandang Dan Tanah Longsor Akibat La Nina

467
×

BMKG DAN BNPB : Waspada Bencana Banjir Bandang Dan Tanah Longsor Akibat La Nina

Sebarkan artikel ini

Penajournalis.com-JAKARTA Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menginformasikan, berdasarkan analisis dari potret data suhu permukaan laut di Pasifik, saat ini La Lina sudah teraktivasi di Pasifik Timur. Kondisi ini dapat memicu frekuensi dan curah hujan di wilayah Indonesia akhir tahun 2020 hingga April tahun 2021 jauh lebih tinggi.

Menurut Supari, Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG, dampak La Lina dapat memicu curah hujan yang jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi normal sehingga potensi banjir, banjir bandang dan tanah longsor ke depan perlu diwaspadai.

Menyikapi fenomena terkait cuaca dan iklim ini, Supari menyampaikan perlunya kewaspadaan terhadap kondisi hujan di atas normal pada Oktober dasarian I dan II. Satuan dasarian yang digunakan menunjuk pada kurun waktu sepuluh harian.
“Beberapa provinsi diperkirakan akan memasuki musim hujan pada Oktober 2020,” kata Supari saat konferensi pers tim intelejen penanggulangan bencana yang dilakukan secara virtual pada Rabu (30/9/2020) lalu.

Terkait dengan La Lina, Supari mengatakan bahwa, dampaknya tidak seragam di seluruh wilayah Indonesia. Sementara itu, prakiraan awal musim hujan akan berlangung pada Oktober dengan wilayah teridentifikasi di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan sebagian kecil Sulawesi, Maluku Utara dan sebagian kecil Nusa Tenggara Barat. “Prakiraan tersebut untuk wilayah Sumatera, seperti di pesisir timur Aceh, sebagian Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka dan Lampung,” ungkapnya.

Sedangkan awal musim hujan untuk wilayah Jawa, diprakirakan terjadi di Banten, sebagian Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah, sebagian kecil Jawa Timur. “Sedangkan di wilayah Kalimantan, potensi hujan di sebagian Kalimantan Barat, sebagian Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, sebagian Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.” Pungkasnya.

Di tempat terpisah, Dr. Raditya Jati
Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Pusdatin KK-BNPB) menjelaskan, dengan adanya analisis maupun informasi peringatan dini cuaca dari BMKG tersebut, BNPB berharap agar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sebagai focal point penanggulangan bencana di tingkat provinsi, kabupaten dan kota untuk selalu waspada dan siap siaga menghadapi potensi bahaya hidrometeorologi. “Upaya dini pencegahan dan mitigasi harus dilakukan untuk mengurangi atau pun menghindari dampak bencana,’ ucapnya.

Raditya menambahkan, BNPB juga mengimbau masyarakat untuk melakukan upaya kesiapsiagaan, khususnya di lingkup keluarga dengan cara memonitor dan menganalisis secara sederhana potensi bahaya yang ada di sekitar. elalui aplikasi berbasis teknologi informasi. Menurutnya, dengan menggunakan InaRISK personal, masyarakat dapat melihat ancaman bahaya di sekitar lingkungannya. “Kemudian, diskusikan di antara anggota keluarga langkah-langkah mengantisipasi ancaman yang mungkin terjadi, seperti mematikan aliran listrik, menyimpan dokumen penting di tempat aman atau menyiapkan tas siaga bencana.” Pungkasnya.

~ BMKG dan BPNB minta masyarakat waspad dengan potensi ampak La Lina yang dapat memicu curah hujan yang jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi normal sehingga potensi banjir, banjir bandang dan tanah longsor.

Reporter/Wartawan : Boim / Fahry

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *