Karya JurnalistikNews

Kesombongan dan Kebodohan Membuat Komunisme Muncul Untuk Menang

345
×

Kesombongan dan Kebodohan Membuat Komunisme Muncul Untuk Menang

Sebarkan artikel ini

Penajournalis.com. Perang dingin usai, dan warga dunia bersorak sorai menikmati kemenangan atas komunis di muka bumi ini. Lupa bahwa “dendam yang tersimpan” tetap tidak mudah terhapus begitu saja di benak dan hati orang-orang yakin dengan kebenaran paham tersebut. Mereka bukan orang bodoh, mereka cerdas, dan bukan juga orang yang mudah menyerah. “Kalah sekarang, menang kemudian”, tampil dengan strategi dan cara baru yang bisa memberikan pengaruh lebih besar agar kemudian menjadi berkuasa kembali, dilakukan. Demiliterisasi yang mengumbar Hak Asasi Manusia, melupakan prinsip keadilan Kewajiban Manusia, sangat mudah diterima banyak orang dan bahkan menjadi sangat penting, padahal ini adalah bagian dari penghancuran yang mereka lakukan. Diakui tak diakui, disadari tak disadari.

Thesis yang saya buat pada tahun 1997 tentang “Demilitarization in Indonesia, Comparison With Thailand”, akhirnya menjadi kenyataan dimulai pada tahun 1998 pada saat Orde Baru jatuh dan digantikan oleh reformasi. Dengan berbagai kemarahan, kebencian, dan dendam, saya katakan demikian, era reformasi dibangun. Tanpa disadari bahwa apa yang terjadi kemudian menjadi kesempatan bagi kaum komunis bangkit kembali di Indonesia. Melumpuhkan militer dengan berbagai alasannya, yang didukung oleh sebagian rakyat bahkan para aktivis yang tidak “terlanjur dipenuhi marah”, merupakan salah satu strategi mereka. Sementara negara China yang “seolah-olah berubah” menjadi negara demokratis, mempersiapkan pasukan militernya dengan lebih dahsyat lagi. Begitu juga dengan Amerika dan Rusia, sementara Indonesia?!

“Globalisasi, Hak Asasi Manusia, Proletar, Kesetaraan Gender” bagi saya merupakan bagian dari strategi kebangkitan komunis dunia, yang anehnya didukung oleh banyak penduduk dunia ini. Memang banyak yang menentang pemikiran saya, namun saat ini semua terbukti. Bahkan pembahasan mengenai Partai dan pemilu yang saya tulis – saya anggap omong kosong demokrasi yang ada, dan pemilu sama sekali bukan cara berdemokrasi yang benar, partai ada hanya untuk menguasai pemerintahan dan rakyat -, ditentang habis-habisan. Kini, terlambat sudah, bila baru menyadarinya. Komunis sudah bangkit kembali, dan itu akibat kebodohan dan kelalaian sendiri. Kesuksesan di dalam berpikir di dalam politik itu soal bagaimana berstrategi lebih terdepan, membuat “permainan” dan menang, bukan larut dalam permainan dan menjadi bahan permainan.

Isyu agama yang sangat sensitif menjadi objek termudah untuk dijadikan bahan permainan, memecah belah, dan adu domba. Dengan alasan kebebasan dan hak Asasi Manusia juga, “adu mulut” saling memaki dan menghina, ditambah dengan penerapan jurnalime kuning yang penuh dusta dan merusak, semakin mudah isyu soal agama ini dipakai untuk menghancurkan. Sementara Kewajiban Asasi Manusia yang sebenarnya lebih penting diabaikan. Kebebasan pun ada batasnya, di dalam kehidupan tidak ada yang bebas sebebas-bebasnya. Makan sebebasnya pun terbatas kemampuan perut.

Lucunya, meskipun sebenarnya cara mereka ini usang dan basi, namun tetap ampuh. Permainan hermeuneutika bahasa, politik mercu suar, dan jurnalisme kuning sebenarnya bukan hal baru, bahkan logika mereka yang hanya sebatas “buku dan teori” semestinya bisa dihancurkan dengan mudah. Bila hanya dilawan dengan adu mulut, demonstrasi, dan berbagai cara usang juga, jelas justru membuat mereka semakin menang. Harus memiliki kemampuan berstrategi yang baru, bukan itu-itu saja karena “biasanya begitu”, untuk bisa menang. Apa hanya karena merasa sudah lebih tahu juga, maka takut dengan cara dan strategi baru?! Kesombongan berhadapan kesombongan maka nihil hasilnya bila tidak diimbangi dengan kemampuan tiga langkah lebih maju.

Strategi diam dan mengabaikan semua ucapan mereka pun tak mampu dilakukan dengan alasan diam itu seperti menyerah, sementara mereka memang inginnya selalu dibuat viral. Membuat mereka viral, dimaki, dihina, dikritik justru menjadi tujuan kemenangan. Diajak untuk menggunakan logika mereka yang sebatas “materi” pun masih ditentang juga. Tidak bisa membedakan mana strategi dan mana keyakinan itu sendiri, sehingga membuat semakin sulit. Diajak perang langsung juga banyak alasan, terutama alasan ekonomi. Lantas apa maunya?!

Jika memang sudah menyerah, lebih baik menyerah dengan ikhlas, tidak usah banyak alasan yang membuat tidak bahagia. Tidak perlu beri nasehat dan kritik terus menerus bila juga takut untuk berbuat, menghormati orang lain, dan selalu merasa paling hebat, mampu, baik, dan benar.

Jika ingin menang, maka belajarlah! Rendahkan hati dan tidak usah banyak bicara omong kosong tak perlu. Pikirkan sama-sama strategi terbaik untuk menang, berikan cara terbaik dan lebih baik bila mampu. Jangan anggap mereka bodoh, jika mereka bodoh maka yang merasa pintar dan hebat semestinya bisa menang, bisa berbuat lebih banyak untuk membantu orang banyak, negara, dan bangsa ini secara nyata. Menjadi berbeda dan radikal bukan sesuatu yang salah. Perubahan di dunia ini selalu dimulai dengan pemikiran yang berbeda dan radikal, bukan dengan nasehat-nasehat dan banyak bicara.

Kuasai kata dan bahasa dengan baik, gunakan dengan baik sesuai posisi, waktu, tempat, situasi, dan kondisi agar mampu menang. Kata dan bahasa bukan sekedar kata dan bahasa, namun pola pikir dan cara berpikir. Tidak perlu menilai bila belum mampu mengetahui sedalam-dalamnya arti dan makna setiap kata yang tertuang agar tidak mudah terpancing, dan merusak kesempatan untuk menang. Politik itu bukan sekedar permainan, namun cara kita dalam menempuh kehidupan ini dan mencapai tujuan akhir. Mau ke Mana?!

Semoga berguna dan bermanfaat.

( Mariska Lubis )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *