Penajournalis.com CONAKRY/JAKARTA — Rabu, 10 September 2026 — Dukungan internasional terhadap kedaulatan penuh Kerajaan Maroko atas wilayah Sahara Maroko kembali mendapat dorongan diplomatik kuat dari Afrika Barat. Republik Guinea secara tegas menegaskan ulang sikap konsisten dan tak tergoyahkan mendukung kedaulatan Maroko, sebagaimana disampaikan dalam Sidang Komisi Kerja Sama Bersama Maroko–Guinea ke-8 di Conakry, Selasa, 8 September 2026.
Pertemuan tingkat tinggi tersebut dipimpin bersama oleh Menteri Luar Negeri, Kerjasama Afrika, dan Warga Maroko di Luar Negeri, Nasser Bourita, serta Menteri Luar Negeri, Integrasi Afrika, dan Warga Guinea di Luar Negeri, Dr. Morissanda Kouyaté.
Guinea Tegaskan Dukungan Penuh: Inisiatif Otonomi Satu-satunya Solusi Nyata
Dalam pidato pembukaannya, Dr. Kouyaté menyatakan Republik Guinea mendukung penuh inisiatif otonomi di bawah kedaulatan Maroko sebagai satu-satunya solusi nyata untuk mengakhiri sengketa regional tersebut. Pembukaan Konsulat Jenderal Republik Guinea di Dakhla pada Januari 2020 ditegaskannya sebagai bukti konkret dan simbol solidaritas yang tak tergoyahkan.
Menanggapi hal tersebut, Nasser Bourita menyampaikan apresiasi mendalam atas dukungan tanpa syarat yang secara konsisten ditunjukkan Guinea di berbagai forum regional maupun internasional.
Perspektif Filsafat Politik & Hukum Internasional: Kedaulatan untuk Keadilan & Kesejahteraan
Sengketa Sahara Maroko mengundang refleksi mendalam dari perspektif hukum internasional dan filsafat politik. Kedaulatan negara tak semata diukur dari batasan geografis, melainkan kemampuan menghadirkan keadilan, stabilitas, dan kesejahteraan bagi warganya. Inisiatif otonomi khusus Maroko selaras dengan gagasan Immanuel Kant tentang “Perdamaian Abadi” — menjembatani integritas teritorial sekaligus memberikan tata kelola lokal yang inklusif, menciptakan harmoni antara kekuasaan negara dan hak-hak sipil warga.
Wilson Lalengke/Persisma: Dukungan Guinea Bukti Semakin Diterimanya Realitas Geopolitik
Di Indonesia, Wilson Lalengke, Presiden Indonesia-Moroccan Sahara Brotherhood (PERSISMA), menyambut positif penegasan sikap Guinea.
“Penegasan sikap Republik Guinea serta langkah berani pembukaan konsulat di Dakhla merupakan bukti nyata bahwa komunitas internasional semakin memahami dan menerima kenyataan geopolitik di lapangan. Rencana otonomi khusus yang digagas Pemerintah Maroko di bawah kepemimpinan Yang Mulia Raja Mohammed VI adalah langkah yang sangat realistis, berorientasi masa depan, dan mencerminkan komitmen terhadap pembangunan manusia.”
Wilson menambahkan bahwa kepastian hukum dan kedaulatan adalah syarat mutlak bagi pembangunan ekonomi, keamanan kawasan, serta kesejahteraan masyarakat Sahara Maroko. Ia juga menegaskan momentum dukungan ini dapat menjadi teladan bagi penyelesaian konflik global lainnya — dengan mengedepankan dialog, integritas wilayah, dan pemberdayaan masyarakat melalui mekanisme otonomi.
“Dukungan konsisten Republik Guinea bersama negara-negara anggota PBB lainnya kian memperkokoh legitimasi Maroko di panggung internasional. Pendekatan otonomi di bawah kedaulatan Maroko bukan hanya solusi politik yang paling efektif, melainkan fondasi utama dalam membangun masa depan yang damai, sejahtera, dan berkeadilan bagi seluruh rakyat di wilayah Sahara Maroko.” — tutup Wilson Lalengke.
(TIM/Red/PPWI)
Editor: Asep NS
#SaharaMaroko #KedaulatanMaroko #GuineaDakhla #OtonomiSahara #Persisma #WilsonLalengke #DiplomasiDamai #HukumInternasional #SolidaritasAfrika















