
Penajournalis.com, – Pengalihan Terus, Bagaimana Dengan Masalah Ekonomi?! Oleh Mariska Lubis SE MIntS (ML) 10/09/2020
Keributan terus dibuat seolah menjadi bagian dari kehidupan keseharian masyarakat saat ini. Tidak ikut terlibat, seperti ketinggalan jaman, sementara masalah utama yang sedang dihadapi bersama justru semakin tidak karuan. Masalah di bidang ekonomi yang pada akhirnya menyangkut ke segala bidang, terus ditutupi dan tidak dibahas secara tuntas untuk mencari penyelesaiannya. Lebih buruknya lagi, malah seperti ditutupi dan ini membuat semakin sulit diselesaikan.
Mau dibilang aneh, ya tidak aneh juga. Wajar hal ini terjadi setelah terjadi pembodohan besar-besaran yang dilakukan di seluruh dunia secara bertahun-tahun. Teknologi yang berkembang pesat, pendidikan yang semakin tinggi, informasi yang bisa didapat lebih mudah, tidak membuat keadaan Dan kehidupan menjadi lebih baik. Kemunculan virus Covid-19 pun dijadikan alasan penyebab utama berbagai masalah yang terjadi, dan menurut saya ini terlalu naif untuk diutarakan meskipun patut diakui bahwa Covid-19 mengubah banyak hal dalam cara kita berkehidupan.

Politisasi menggunakan alasan Covid-19 pada akhirnya menusuk diri sendiri juga, dan ini dibuktikan dengan penolakan oleh 59 negara terhadap Indonesia. Covid-19 memang ada, namun yang terparah dari semua ini adalah politisasi dan memanfaatkan momentum akibat keberadaan pandemi ini. Mereka menutup pintu bagi orang Indonesia berkunjung ke negara mereka, dan ada lebih banyak lagi negara yang melarang warganya masuk ke Indonesia. Tetap masuknya TKA China saat Covid-19 dan gamblangnya keberpihakan pemerintah Indonesia terhadap China bisa jadi justru penyebab utama penolakan negara-negara tersebut, dan Covid-19 dijadikan alasan untuk “melawan” secara halus. Tidak semua orang mudah dikelabui dan dijadikan permainan.
Isyu soal komunis dan Pancasila, pertentangan agama memang sangat sensitif dan mudah sekali dijadikan alat pengalihan. Masyarakat yang sedang dalam keadaan bingung, kalut, dan tidak memiliki keyakinan apalagi bagi yang sudah kehilangan harapan akan sangat mudah terpancing. Ditambah lagi dengan segala perdebatan yang sengaja dipertontonkan, membuat masyarakat semakin terpicu dan akhirnya tidak lagi terkendali. Dana untuk urusan-urusan politik seperti ini semakin membengkak dan tidak karuan, sementara kondisi ekonomi menjadi korbannya lagi, semakin hancur dan terpuruk.
Patut diakui, tidak mudah menghilangkan kebiasaan “mudah terpancing” ini, meski sudah banyak yang sadar bahwa pancingan-pancingan tersebutlah yang justru membuat keadaan semakin memburuk. Permainan politik hermeuneutika bahasa dan jurnalisme kuning yang membolak balik kebenaran dan fakta untuk kepentingan dan tujuan tertentu masih terlalu mudah diterapkan, walau sudah usang dan dilakukan berulang-ulang. Membuat rakyat dan terutama para aktivis yang berperan penting, mengerti untuk tidak membuat viral ucapan-ucapan orang-orang yang sengaja membuat pengalihan dan gaduh, sungguh bukan pekerjaan mudah. Butuh kesadaran dari diri masing-masing untuk mengerti.

Mau sampai kapan keadaan seperti ini?! “Gue! Good Looking RADICALIST!!!” menolak segala bentuk pancingan ini. Rakyat Indonesia bukan kepala pentul korek api yang mudah terbakar dan hangus, bukan juga bola sepak yang seenaknya bisa ditendang ke sana ke mari untuk kepentingan. Rakyat Indonesia berkuasa penuh dan berdaulat di NKRI, dan rakyat pula yang akan menyelesaikan segala masalah yang ada. Allahu Akbar!!!
Mariska Lubis















