Penajournalis.com JAKARTA – Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day yang jatuh pada Jumat, 1 Mei 2026, kembali menjadi momen penting bagi para pekerja di seluruh Indonesia, termasuk para pengemudi ojek daring dan kurir yang tergabung dalam Serikat Pengemudi Transportasi Indonesia (SEPETA). Ribuan anggota dari wilayah Jabodetabek dan Karawang turut hadir memadati kawasan Monumen Nasional (Monas), bergabung dalam barisan massa yang diperkirakan mencapai 400.000 orang untuk menyuarakan aspirasi dan tuntutan mereka.
Dalam aksi ini, SEPETA menegaskan posisinya bahwa para pengemudi sejatinya adalah mitra kerja, bukan budak aplikasi. Ketua DPC SEPETA Kabupaten Bekasi, Dede Zulfikar, membacakan sembilan poin tuntutan utama organisasi yang menjadi aspirasi seluruh anggotanya. Poin-poin tersebut meliputi: pengakuan resmi status ojol sebagai pekerja, hak berserikat dan berunding, jaminan kepastian kerja, penghapusan potongan biaya aplikasi, keterbukaan algoritma penugasan, hak reproduksi bagi buruh perempuan, penurunan harga BBM dan kebutuhan pokok, penyediaan jaminan sosial dan kesehatan gratis, serta dukungan terhadap transisi energi yang berkeadilan.
Hadir memimpin rombongan, Ketua Umum SEPETA, Bangun, bersama para ketua DPC se-Jabodetabek. Dalam orasinya, ia menekankan pentingnya kehadiran negara untuk melindungi hak-hak para pekerja, khususnya di sektor transportasi daring. Ia juga menolak keras penerapan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) yang dinilai merugikan, serta mengingatkan agar pemerintah mengantisipasi dampak perkembangan kecerdasan buatan atau AI yang dikhawatirkan dapat mengurangi lapangan kerja di masa mendatang.
Peringatan tahun ini menjadi bukti nyata bahwa para pekerja, termasuk mereka yang berada di sektor ekonomi digital, terus bersatu dan berjuang menuntut kesejahteraan yang layak serta perlindungan hukum yang pasti dari negara.
Reporter: Al Jupri Munawa
Editor: Asep NS















