Karya JurnalistikOpiniRagamRedaksi

Prill Huseno : “Industri Produk Halal, Membangun dari Nol” (Bagian-1)

455
×

Prill Huseno : “Industri Produk Halal, Membangun dari Nol” (Bagian-1)

Sebarkan artikel ini


Gambar Skema Sertifikasi Halal

Penajournalis.com, – Karya Jurnalistik by Prill Huseno (03/10/2020).

“Industri Produk Halal, Membangun dari Nol”
(Bagian-1)

Dunia produk halal di Indonesia, benar-benar tertinggal jauh dari negara lain, bahkan jika dibandingkan dengan negara yang memiliki populasi muslim minoritas seperti Thailand, Brazil, Prancis, dan lain-lain.

Indonesia saat ini hanya menempati posisi ke 10 dari industri halal dunia, hal mana Malaysia adalah negara yang menempati posisi pertama. Setelah Malaysia, posisi berikutnya ditempati Uni Emirat Arab, Bahrain, Saudi Arabia, Pakistan, Oman, Kuwait, Qatar dan Yordania.

Demikian dikatakan Prof Dr Slamet Ibrahim S.DEA,Apt. dari Pusat Halal Salman Institut Teknologi Bandung (ITB), dalam webinar tentang Industri Halal Indonesia yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Alumni ITB angkatan 75-76 pada Minggu (27/09/2020).

Slamet Ibrahim menambahkan, berdasarkan data pada 2005 saja potensi pasar dunia untuk produk-produk halal telah mencapai valuasi sebesar 2,1 triliun dolar AS. Angka itu terdiri dari obat-obatan sebesar 22 persen, nutraceutical 6 persen, dan food and beverages sebesar 62 persen. Sisanya lain-lain produk halal.

Jelas bahwa dengan potensi global halal product yang demikian besar, semestinya Indonesia dapat memanfaatkan momentum emas tersebut untuk meningkatkan supply halal product ke pasaran dunia. Namun apa daya, yang terjadi mengharuskan semua stakeholder halal product kembali “inward looking” dengan pembenahan di segala bidang.

Padahal, dari sisi demografi, Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbanyak di dunia yakni dengan jumlah penduduk muslim sebanyak 227.226.404 jiwa (Maret 2019). Lalu di bawahnya Pakistan dengan populasi muslim sebanyak 204.194.370 jiwa, India dengan 189.000.000, Bangladesh 148.607.000 jiwa dan Nigeria yang memiliki penduduk muslim sebanyak 95.316.131 jiwa. Total, jumlah populasi muslim dunia pada 2019 telah mencapai 1,8 miliar jiwa.

Prill Huseno (PSO) Dewan Pembina Penajournalis.com.

Sayangnya, jumlah penduduk muslim terbanyak rupanya belum tentu dapat memenangkan persaingan produk halal dunia dengan negara lain. Ironisnya, hal itu terjadi di tengah kelimpahan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimiliki Indonesia di masa bonus demografi saat ini.

Lebih ironis lagi, sampai dengan 2019 produk halal dunia justru tengah tumbuh menuju puncak perputaran transaksi produk halal dunia.

Sebagai contoh, di Inggris impor produk halal negara itu telah mencapai sekitar 18 miliar GBP per tahun. Sementara di Amerika Serikat “halal market” telah mencapai 18 miliar dolar AS per tahun. Di Jepang, produk halal telah menjadi salah satu item yang mempunyai kontribusi besar bagi perekonomian Jepang pada 2020. Sementara di Thailand, pasar produk halal tumbuh sekitar 20 persen per tahun dari 8.000 perusahaan yang telah terlibat dalam produksi makanan halal negeri “Gajah Putih”.

Di belahan dunia lainnya, Brazil telah tumbuh menjadi negara pengekspor makanan dan produk peternakan (ayam) halal kedua setelah Australia, untuk pasar negara-negara Timur Tengah termasuk Indonesia. Sementara itu China tengah bersiap menjadi nett imported produk makanan dunia termasuk produk makanan halal pada dekade mendatang. Puncaknya, ekspor produk halal Malaysia mencapai 11 miliar dolar AS pada 2014 dan telah menjadi eksportir produk halal terbesar ke China, USA, Indonesia dan Jepang.

Menjadi pertanyaan, mengapa sedemikian lemah Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia memanfaatkan peluang SDA dan SDM melimpah dalam mengisi potensi pasar produk halal dunia?

(Pso)

(Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *