
Penajournalis.com-Malang. selasa, 10 Nop 2020.
Langit terhampar luas tanpa batas
Terdengar senandung lagu merdu
Untaian garis garis melambai lambai
Melambai seperti Lima jari memanggilnya
Terlihat dan terdengar suara kemrincing
Nyaring dan begitu lembut terdengarnya
Mendekat seraya tumpangan dipersiapkan
Membawa melaju melesat dengan cepat
Hembusan hawa halus dingin menyengat
Menyengat begitu menusuk dan lembut
Menjadikan saksi di Alam langit nan indah
Sulit dirasakan hanya hati yang lembut
Memutar alam langit menuju singgasana. abadi
Hanya engkaulah pengisi singgasana yg sejati
Tanpa ada yang mencegahnya engkau pemiliknya.
Tiada yg memiliki singgasana, hanya garis garis halus sejati Bapak- Ibunya.
Bapak Ibu menyuguhkan pada putra putrinya yang dikasihi dan dicintai.
Putra putri sejati yang abadi tiada masa dan tanpa masa.
Diletakkan dipundaknya tampa terasa, untuk duduk disinggasana.
Menegakkan Cakra kedua tangannya pertanda kepemimpinan Dunia.
Tumpangan kemrincing Kereta Kencana
Mengkilat mensilaukan mata yang memandangnya.
Memutar dunia yang menjadi miliknya
Atas anugerah Bapak Ibu yang selalu ada dalam jiwa dan hatinya.
Burung..Ohh..Burung bertengger diranting pohon
Berkicauan bersautan tanpa henti, dan mengepakkan sayapnya.
Berjingkrak berputar berbahagia menyambut alam yang kelam
Mendongakkan kepalanya memandang hawa kelam ke alam maya.
Terbang bersama kembali pada ranting yang sama.
Tidak jenak menghinggapkan kakinya ke ranting pohon.
Ada seberkas kegelisahan menghantuinya dalam pandangannya.
Mengekspresikan secara nyata dihadapannya yang dapat menangkap isyaratnya.
Kicauan burung yang saat ini berkicau menggelisahkan instingnya.
Instingnya begitu tajam menangkap isyarat alam yang tidak bersahabat.
Menunjukkan begitu tidak baiknya hawa alam yang menyertainya.
Mengajak berpikir mengeksplorasi apa yang bakal terjadi.
Ooohhh..Burung begitu tajam hatimu engkau suarakan ke alam.
Bisakah manusia manusia dibumi merasakan kicauanmu.
Hanya kuasanya engkau siratkan dihadapanmu yang dapat meresapinya.
Dan memberikan jawaban nantinya atas alam yang kelam.
Ooo..Burung engkau bisa pergi melayang ke ranting pohon lainnya.
Mengapa engkau terbang kembali lagi pada ranting pohon semula.
Apa engkau pertunjukkan bahwa alam kelam akan menerjang.
Hanya bahasamu logatmu gayamu yang engkau tunjukkan kepadaKu.
Kutangkap isyaratmu akan mendapat petunjuk dari IbuKu.
IbuKu sang penguasa jagat alam yang tahu apa kehendakmu.
Hanya saat ini engkau diutus menyampaikan kehendaknya kepadaku.
Untuk mempersiapkan jiwa raga seutuhnya yang akan diukir berperang dihadapannya.
Aku melangkah dengan tenang dan damai telapak kakiku.
Memandang kedepan dan berdoa untuk kebaikan dan kedamaian.
Kulangkahkan dua kali jangkauanku untuk kecepatan apa yang aku tuju.
Perubahan yang aku dambakan untuk membuka lembaran baru kebahagiaan dan kemakmuran
Jangan engkau menghadang langkahku yg kuat menginjak Bumi Pertiwiku.
Engkau akan terlempar jauh tak terlihat jasadmu.
Terpendem semak belukar terhisap keganasan alam.
Terhimpit celah batu kayu akan hancur meleleh seperti debu.
Itu masih hanya setetes saja menabrak jasad yang menghadang dihadapanku.
Belum apa apa yang ada dalam jiwa ragaku yang masih tersembunyi tiada siapapun yang tahu.
Jika engkau masih menunjukkan kecongkaanmu kesombonganmu akan lebur jiwa ragamu tanpa engkau rasakan.
Matilah engkau hanya ratapan rintihan tanpa engkau mendengar kasat mata.
Alam seisinya telah bersahabat denganku
Alam seisinya ada dalam jiwa ragaku seutuhnya.
Alam seiisinya melekat tidak mau jauh karena kehendaknya.
Melekat sepanjang masa karena olehnya dan yang diperjanjikan.
Jika engkau tidak sadar akan kulumat dengan mulutku dan swara hatiku.
Bumi Pertiwi dan seisinya jangan engkau ganggu seenaknya karena kehebatanmu.
Akan kukembalikan akan aku balikkan akan aku bolak balik menghimpit jasadmu.
Jangan engkau mengumbar keserakahanmu yang membabi buta.
Tak lama waktu akan menggiring jasadmu yang lemah tidak akan menghadap yang engkau tuju.
Kuberikan kesempatan terakhirmu, jasadmu yang lemah jangan engkau unggulkan.
Kurobek kucabik jasadmu beserta yang melengkapimu.
Engkau tidak akan bahagia di alam kelanggengan yang penuh kebahagiaan.
Engkau akan berada dialam yang belum pernah engkau rasakan pedihnya.
Engkau akan melebur tanpa arah hancur tanpa arah tidak diterima sebutir embun dan sebutir debupun…
Karya : Yudi E. Handoyo
( Mariska Lubis )















