
Penajournalis.com, – Puisi Jodhi Yudono
Di Murodo
Rinduku biru
Tergantung di matamu
O..kekasihku
Rinduku ungu
Membatu tanpa ragu
Menjumpaimu
Kekasih itu
Tahu pergi menuju
Ke cahayaMu
Di Murodo aku menemukan puisi, pada salju yang turun di hari pertama tahun ini. Maka kubiarkan wajah tropisku dilumat oleh angin beku yang memecahkan garis-garis di bibir.
Aku memang sedang merasai ketabahan orang jepang, teguh menghadapi musim yang berganti, dan pintar bersiasat atas cuaca.
Di Murodo aku menikmati kopi hitam dan cerita panjang tentang negeri yang timbul tenggelam oleh badai tapi tetap gagah.
Di Murodo aku juga membaca kisah tentang matahari, bulan, gunung, laut, ladang, sandang, makanan, teknologi, juga tradisi yang mengalir jadi bait-bait puisi dengan rima dan diksi yang terjaga. Lantas dihembuskan ke delapan penjuru mata angin, agar dunia berpaling ke timur, tempat matahari merekah dengan indah, tempat mukim sebuah bangsa yang tak mudah menyerah.

Di Murodo aku memang menggigil, tapi seperti Sam Gomisawa, aku tetap tersenyum bahkan ketika hujan salju mengamuk di tepian kolam Mikuri
Kubiarkan diriku menjelma burung gagak yang melintasi angkasa Toyama dan sesekali hinggap di atap rumah-rumah penduduk. Kemudian tubuhku berubah menjadi bebek yang merenangi bendungan Kurobe. Kunikmati hidupku seperti Yoko Takebe menikmati sake, onsen, sushi dan sashimi….
segar dan penuh kejutan
Murodo, 1 November 2016
Untuk kawan perjalanan: Yoko Okoy Takebe, Sam Gomisawa, Zulfiq Ardi Nugroho, Za Aradea , Liu Xinying Vanessa,
(Redaksi Penajournalis.com)















