Penajournalis.com Jakarta, 5 Juli 2025 – CEO Nusantara Centre, Yudhie Haryono, dalam tulisannya membahas konsep peradaban Pancasila sebagai sebuah proyeksi masa depan Indonesia. Haryono menggambarkannya sebagai “trias revolusi”: mental, nalar, dan konstitusional, yang dianalogikan sebagai proses menanam, memanen, dan menabung yang harus dilakukan secara simultan, berkelanjutan, dan tertradisikan.
Indonesia, menurut Haryono, mewarisi tiga beban dari masa kolonial: mental kolonial (inlander dan dendam), nalar kolonial (fasis, feodal, dan fundamentalis), dan konstitusi kolonial (oligarkis, kartelis, kleptokratis, dan predatoris). Ketiga warisan ini melahirkan lima permasalahan utama (5K): kemiskinan, pengangguran, kebodohan, kesakitan, dan ketimpangan.
Untuk mengatasi permasalahan ini, Haryono menekankan perlunya manusia Pancasila yang berideologi Pancasila untuk menciptakan Indonesia Raya, Nusantara, dan peradaban Atlantik. Ia mengidentifikasi musuh utama peradaban Pancasila sebagai fundamentalisme, baik agama maupun pasar. Di Indonesia, kedua fundamentalisme ini berpadu, menciptakan teror, kebencian, dan peperangan.
Fundamentalisme agama menciptakan identitas biner (“aku” vs “kamu”), sementara fundamentalisme pasar menciptakan identitas brutal-dominatif yang oligarkis dan predatoris. Keduanya, menurut Haryono, menolak gagasan globalisasi yang menjunjung tinggi kesetaraan hak politik dan ekonomi, malah menjelma menjadi neoliberalisasi yang dikuasai segelintir orang.
Haryono menyimpulkan bahwa kedua fundamentalisme ini melahirkan ketimpangan, ketidakadilan, dan penjajahan gaya baru, memicu kemarahan, kebencian, dan teror. Ia menyerukan agar Indonesia tidak hanya marah dan pasrah, tetapi harus bertindak secara jenius dengan “menikam mati” kedua fundamentalisme tersebut di jantungnya, sebagai upaya menyelamatkan peradaban.
Tulisan ini menjadi kritik tajam terhadap kondisi Indonesia saat ini dan menyerukan transformasi besar untuk mewujudkan peradaban Pancasila yang adil dan bermartabat.
Yohan Yudistira
Koordinator Liputan Nasional
Editor: Asep NS















