AgamaKarya JurnalistikNewsRagamRedaksi

Ustadz Aceng Anwar S.Kom.I : Kisah Kasih Khadijah Bag 3

332
×

Ustadz Aceng Anwar S.Kom.I : Kisah Kasih Khadijah Bag 3

Sebarkan artikel ini

Ustadz Aceng Anwar S.Kom.I dai Kamtibmas Rohbintal Polsek Koramil Leuwigoong Polres Kodim Garut

Penajournalis.com, – Kisah Kasih Khadijah oleh Ustadz Aceng Anwar S.Kom.I, da’i Kamtibmas/ Rohbintal, Polsek/ Koramil Leuwigoong Polres /Kodim Garut, ketua MUI desa Margacinta kec Leuwigoong kab Garut, dewan penasehat rohani Penajournalis.com (24/09/2020).

PERNIKAHAN AGUNG WANITA SURGA

  1. Hati yang Tertawan

Rasulullah SAW mengajarkan tentang standar baku bagi laki-laki untuk memilih istri. Banyak alternatif. Kaya boleh, cantik wajar, pintar apalagi. Namun, pilihlah dia yang memegang teguh agamanya.

Itu sudah paripurna. Jika hati, akhlak dan otaknya sudah beragama insyaAllah yang lain-lainnya akan ngikut. Termasuk kecantikan?

Ya tentu saja. Di luar rumah bisa jadi tak ada yang bilang menawan, tapi di dalam rumahnya yang diberkahi, Allah memberikan aura kecantikan itu yang membuat pasangannya tertawan karena mata hatinya lah yang memandang. Tak percaya? Banyak buktinya.

Ada pun laki-laki diinginkan wanita umumnya karena bijaksananya. Yang dengannya ia melindungi, menyamankan, mempedulikan, memanusiakan istrinya. Juga kesetiaan yang tak bisa ditawar harganya.

Demikian pun kisah Khadijah ra ketika hatinya terpaut. Ia sungguh sangat terpaku mendengar nama dan akhlak mulia Muhammad yang sering disebut.

Maka dalam sebuah riwayat dikatakan ketika Atikah Binti Abdul Muthalib–bibi Muhammad yang mendengar pembicaraan antara Abu Thalib dan Muhammad tentang rencana melamar pekerjaaan kepada Khadijah– datang berkunjung dan bercerita hal itu, Khadijah pun menjawab dengan penuh rasa empati.

“Mengapa tidak bilang dari dulu? Saya tidak tahu kalau dia menginginkan pekerjaan itu.”

Dalam buku dijelaskan kemudian Khadijah berinisiatif mengutus seseorang untuk memanggil Muhamad dan menjelaskan tentang pekerjaan yang akan dilaksanakan berikut gajinya.

“Saya ingin mengutusmu berdagang, karena saya mendengar tentang kejujuran ucapanmu, besarnya amanah, dan kemuliaan akhlakmu. Saya akan memberimu imbalan gaji dua kali lipat daripada pegawai lain dari kaummu.”

Kemudian Muhammad bersiap memulai pekerjaan baru sebagai manajer perdagangan milik Khadijah ra. Dia akan berdagang membawa dua ekspedisi dengan dua onta. Ekspedisi pertama ke pasar Habasyah (Ethiopia).

Ekspedisi ini menurut sumber diibaratkan seperti masa percobaan untuk mengetahui kepiawaiannya dalam berdagang, kecerdasan, juga keajaiban dari lelaki yang menurut sepengetahuan Khadijah berbeda dengan pemuda kebanyakan yang suka berpesta, hiburan atau duduk-duduk bersama pembesar dan menjilat mereka, juga tidak menyembah berhala. Belum pernah ia mendengar lelaki demikian sebelum ini.

Khadijah mengira Muhammad akan duduk begitu saja di tempat yang disediakan di atas onta dagang itu, tapi dugaannya salah. Muhammad ternyata ikut membantu menata dagangan, mengangkat dan meletakkan dagangan di tempatnya dan sesekali membantu pekerja lain.

Melihat Muhammad cekatan dan rajin bekerja demikian, Khadijah semakin kagum dan penuh suka cita melihatnya.

Sepulang dari Habasyah, budak pekerja kepercayaan Khadijah bernama Maisarah bercerita penuh ketakjuban tentang akhlak Muhammad dalam berdagang hingga mendapat keuntungan besar, juga melihat awan yang menaungi Muhammad saat berjalan bersamanya.
Khadijah kembali terkagum lalu menyambut mereka dengan gembira dan menjamunya.

Rasulullah SAW bersabda, “Saya tidak pernah melihat majikan sebaik Khadijah, ia selalu memiliki makanan sebagai kejutan untuk kami pulang dari berdagang.” (Kitab Ibnu Zubalah, Al Muntakhab min Azwaji an-Nabi).

Ekspedisi kedua, Muhammad mendapat mandat berdagang ke negeri Syam. Mereka menyiapkan dagangan yang besar. Maisarah pembantu Khadijah masih disuruh mendampinginya.

Sesampai di Basrah, kota sebelah selatan Syam, Muhammad tidak langsung menjual barang dagangannya melainkan keliling pasar untuk mengetahui seluk beluk jual beli baru ditawarkan.

Hasil pengamatannya itu memberikan keuntungan sendiri saat berjualan. Barang dagangan Khadijah yang memang bagus kualitasnya laku keras.

Diceritakan saat Muhammad istirahat dan berteduh di bawah pohon dekat gereja di Basrah, seorang rahib bernama Nashtura melihatnya dan terperangah.

“Siapa dia?” tanyanya kepada Maisarah.

“Lelaki Quraisy yang berakhlak mulia.”

Rahib tersebut melihat tanda-tanda kebaikan pada dirinya lalu mencocokkan dengan ciri-ciri kenabian yan tertulis pada kitab-kitab yang dibacanya.

“Dia seorang nabi, di antara nabi-nabi yang telah diutus,” katanya kembali.

Setelah barang dagangan habis Muhammad membeli barang-barang di sana untuk dijual kembali di pasar Mekkah.
Saat pulang di atas onta di bawah terik yang menyengat, lagi-lagi Maisarah melihat gumpalan awan yang menaungi Muhammad.

Saat Muhammad memasuki kota Mekkah, Khadijah melongokan kepala dari jendela atas rumahnya, ia pun melihat awan yang menaunginya. Hati Khadijah semakin tertawan karena takjub apalagi mengetahui hasil keuntungannya melimpah karena berkah.

Maisarah pun bertutur kembali kepada majikannya itu tentang pengalaman perjalanannya. Tak lupa ia menyampaikan tentang Rahib di Basrah yang melihat tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad.

Tak pelak Khadijah ternganga dibuatnya. Ia bergegas pergi ke rumah Waraqah Bin Naufal dan mengabarkan cerita Maisarah. Waraqah pun berseri-seri mendengarnya.

“Wahai Khadijah, jika ini benar maka sungguh Muhammad itu adalah Nabi umat ini, dan inilah saatnya.”

Ia pun kemudian bersyair tentang kebahagiaan itu.

“Andai saya bersamanya ketika itu, menyaksikan kedatangannya, aku akan menjadi orang pertama yang menolongnya.”

Kabar tantang itu menyibukkan Khadijah ra. Ia berharap hubungan pekerjaan yang bersifat profesional itu akan terus terjalin menjadi hubungan lebih erat. Dengan keeratan itu ia bisa ikut serta membantunya menghadapi rintangan dan ujian kelak.

Ia pun berpikir untuk menjalin hubungan yang lebih kuat, lebih luas dan sempurna. Namun itu hanya terjadi jika Muhammad selalu bersamanya dan tak akan bisa kecuali dengan hubungan pernikahan.

Mampukah ia mewujudkannya? Bagaimana caranya?

Meskipun menawarkan diri (melamar) kepada pihak lelaki bukan hal tabu alias kewajaran tapi Khadijah belum bisa membayangkan kalau lamarannya ditolak.

Selama ini ia sanggup menolak lamaran tokoh dan pembesar Quraisy yang ingin menyuntingnya karena memiliki pendapat sendiri yang membuat wibawanya semakin tinggi.

Namun terhadap pemuda Muhammad dengan segala pesona akhlak yang memancarkan pribadi mulia, Khadijah justru merasa segan. Muhammad sangat berwibawa di matanya.

Sayangnya hati kecil Khadijah tidak mampu menyembunyikan perasaan yang bersemi tumbuh, tak mampu menutupi rasa takjub dan kekaguman kepada pribadi Muhammad yang ditampakkan rona mukanya. Sahabat dan para kerabat yang kerap berbincang dengannya pun merasakan betul hal itu, membuat mereka ingin sekali membantu menyampaikan kepada Muhammad.

Dalam haditsnya, Ibnu Syihab berkata, Rasulullah bersabda, “Ketika kami pulang berdagang dari Habasyah, saya berkata kepada teman saya. ‘Mari kita pergi ke rumah Khadijah.’ Di tengah pembicaraan, seorang budak wanita bernama Muntasyiyah masuk ke rumah Khadijah. Melihat kami, ia berkata:

“Apakah ini Muhammad? Demi Allah, kedatangannya pasti untuk melamar.”

“Tidak begitu,” tukas Khadijah segera memotong.

Di lain waktu kami kembali, lagi-lagi budak itu masuk dan berkata seperti dulu.

“Kedatangan Muhammad pasti untuk melamar.”
Khadijah bergegas menimpali.

“Bersikap malulah sedikit!”

Lama-lama saudara Khadijah, yakni Halah menjadi gemas dan terbebani sendiri.

“Kapan engkau segera mengutarakan keinginanmu, Saudariku?”

Karena Khadijah tetap bergeming, Halah bertekad bulat akan mencari Muhammad dan menyampaikan keinginan Khadijah kepadanya yang terhalang lama saking tingginya wibawa Muhammad yang membuatnya segan.

Ia harus mewujudkan harapan Khadijah bagaimanapun caranya.

*WikanRusdi

-Bersambung-

Sumber:

  1. Khadijah, Teladan Agung Wanita Mukminah karya Ibrahim Muhammd Hasan Al Jamal.
  2. Biografi 35 Shahabiyah Nabi, karya Syaikh Mahmud Al Mishri.
  3. Dalam Naungan Cinta Al Haramain, karya Wikan Rusdi. (Ustadz Aceng Anwar S.Kom.I)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *