AgamaKarya JurnalistikNewsRagamRedaksi

Ustadz Aceng Anwar S.Kom.I Mimbar Dakwah : Ciri-ciri Penduduk Surga

431
×

Ustadz Aceng Anwar S.Kom.I Mimbar Dakwah : Ciri-ciri Penduduk Surga

Sebarkan artikel ini

Penajournalis.com, – Mimbar Dakwah oleh ustadz Aceng Anwar S.Kom.I, da’i Kamtibmas Rohbintal Polsek Koramil Leuwigoong Polres Kodim Garut, Ketua MUI desa Margacinta kecamatan Leuwigoong kab Garut Dewan Penasehat Rohani Penajournalis.com (29/10/2020).

Ciri-ciri Penduduk Surga
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
اِنَّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِىاللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَلَهُ، أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَنَبِىَّ بَعْدَهُ، اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَهُ.
أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّاقَدَّ مَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوْا اللهَ اِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ (الحسر: 18)
Hadirin rohimakumulloh
Segala puji bagi Allah, yang telah menciptakan surga bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertaqwa dan menciptakan neraka bagi orang-orang kafir. Shalawat serta salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul akhir zaman Rasulullah Muhammad SAW, kepada para shahabatnya, dan segenap pengikut setianya sampai akhir zaman. Amiin .
Berikut ini adalah sebagian ciri-ciri dan karakter orang-orang yang dijanjikan oleh Allah Swt mendapatkan surga-Nya, beserta segala kenikmatan yang ada didalamnya, yang sama sekali belum pernah dilihat oleh mata, belum terdengar oleh telinga dan belum terlintas dalam benak manusia. Semoga Allah Swt menjadikan kita termasuk di antara penduduk surga-Nya. Ciri-ciri tersebut di antaranya adalah :

  1. Beriman dan beramal shalih, sebagaimana firman Allah Swt,
    “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang Suci dan mereka kekal di dalamnya” (QS.Al-Baqarah ; 25 )

Ibnu Abi Zaid al-Qairawani ra berkata, bahwa yang dimaksud dengan iman itu adalah “ucapan dengan lisan, keikhlasan dengan hati dan amal dengan anggota badan. Ia bertambah dengan bertambahnya amalan dan berkurang dengan berkurangnya amalan. Sehingga amal-amal bisa mengalami pengurangan dan ia juga merupakan penyebab pertambahan iman. Tidak sempurna ucapan iman seseorang apabila tidak disertai dengan amal. Ucapan dan amal juga tidak sempurna apabila tidak dilandasi oleh niat yang benar. Sementara ucapan, amal dan niat pun tidak sempurna kecuali apabila sesuai dengan sunnah/ tuntuan”. Al-Baghawi ra menyebutkan riwayat dari Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu, bahwa yang dimaksud amal shalih adalah mengikhlaskan amal. Maksudnya adalah bersih hati dari riya’. Mu’adz bin Jabal ra mengatakan, “Amal shalih adalah yang didalamnya terdapat empat unsur yaitu ; ilmu, niat yang benar, sabar dan ikhlas.”

  1. Bertaqwa, sebagaimana firman Allah SWT (QS.Ali-Imron ; 15 )
    “Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”. untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya”.

Syaikh Ibnu Utsaimin ra, menguraikan jati diri orang yang bertaqwa. Mereka itu adalah diperintahkan Allah kepada mereka, dalam rangka mentaati-Nya dan karena mengharapkan balasan/ pahala dari-Nya. Selain itu, mereka meninggalkan apa saja yang dilarang oleh-Nya juga demi mentaati-Nya serta karena khawatir akan tertimpa hukuman-Nya .
Termasuk dalam cakupan taqwa, yaitu dengan membenarkan berbagai berita yang datang dari Allah dan beribadah kepada Allah sesuai dengan tuntutan syari’at bukan dengan tata cara yang diada-adakan (bid’ah). Ketaqwaan kepada Allah itu dituntun setiap kondisi, dimana saja dan kapan saja. Maka hendaknya seorang insan selalu bertaqwa kepada Allah, baik ketika dalam keadaan tersembunyi/sendirian atau ketika berada di keramaian/ dihadapan orang.
An-Nawawi ra menjelaskan, salah satu faktor pendorong untuk bisa menumbuhkan ketaqwaan kepada Allah adalah dengan senantiasa menghadirkan keyakinan bahwasanya Allah Swt selalu mengawasi gerak gerik hamba dalam segala keadaannya .
Syaikh as-Sa’di ra memaparkan bahwa keberuntungan manusia itu sangat bergantung pada ketaqwaannya. Sebagaimana firman-Nya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir”.

Cara menjaga diri dari api neraka adalah dengan meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkan terjerumus ke dalamnya, baik yang berupa kekafiran maupun kemaksiatan dengan berbagai macam tingkatannya. Karena sesungguhnya segala bentuk kemaksiatan terutama yang tergolong dosa besar akan menyeret kepada kekafiran, bahkan ia termasuk sifat-sifat kekafiran yang Allah telah menjanjikan akan menempatkan pelakunya di dalam neraka. Oleh sebab itu, meninggalkan kemaksiatan akan dapat menyelamatkan dari neraka dan melindunginya dari kemurkaan Allah Swt. Sebaliknya, berbagai perbuatan baik dan ketaatan akan menimbulkan keridhaan ar-Rahman , memasukkan ke dalam surga dan tercurahnya rahmat bagi mereka .
Ibnu Rajab al-Hanbali ra mengimbuhkan, bahwa tercakup dalam ketaqwaan bahkan merupakan derajat ketaqwaan yang tertinggi, adalah dengan melakukan berbagai perkara yang disunnahkan (mustahab) dan meninggalkan berbagai perkara yang makruh, tentu saja apabila yang wajib yang ditunaikan dan haram ditinggalkan .
Ibnu Rajab rahimahullah menyebutkan riwayat dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, ketika Mu’adz ditanya tentang orang-orang yang bertaqwa. Maka beliau menjawab, ”Mereka adalah suatu kaum yang menjaga diri dari kemusyrikan, peribadahan kepada berhala, dan mengikhlaskan ibadah mereka hanya untuk Allah SWT”. Al-Hasan mengatakan, “Orang-orang yang bertaqwa adalah orang-orang yang menjauhi perkara-perkara yang diharamkan Allah kepada mereka dan menunaikan kewajiban yang diperintahkan kepada mereka”. Umar bin Abdul Aziz rahimahullah juga menegaskan bahwa ketaqwaan bukanlah menyibukkan diri dengan perkara yang sunnah namun melalaikan yang wajib. Ketaqwaan kepada Allah bukan sekedar berpuasa di siang hari, shalat malam, dan menggabungkan antara keduanya. Akan tetapi hakikat ketaqwaan kepada Allah adalah meninggalkan segala yang diharamkan Allah dan melaksanakan segala yang diwajibkan oleh Allah SWT. Barang siapa yang telah menunaikan hal itu dikaruniai amal kebaikan maka itu adalah kebaikan di atas kebaikan”. Thalq bin Habib rahimahullah berkata, “ Takwa adalah kamu melakukan ketaatan kepada Allah SWT di atas cahaya dari Allah karena mengharapkan pahala dari Allah, serta kamu meninggalkan kemaksiatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena takut hukuman Allah .
Pokok dan akar ketakwaan itu tertancap di dalam hati. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “ Pada hakikatnya ketakwaan yang sebenarnya itu adalah ketakwaan dari dalam hati, bukan semata-mata ketaqwaan anggota tubuh. Allah SWT berfirman :
“Demikianlah (perintah Allah). dan Barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, Maka Sesungguhnya itu timbul dari Ketakwaan hati”. (QS. al-Hajj ; 32 )

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS. al-Hajj ; 37 )

Rasulullah SAW bersabda : “ Ketaqwaan itu sembernya di sini”, seraya Beliau mengisyaratkan kepada dadanya”. (HR.Muslim dari Abu Hurairoh ra )
Namun perlu diingat bahwa hal itu bukan berarti kita boleh meremehkan amal-amal lahir, Ibnul Qayyim ra berkata,” Petunjuk yang paling sempurna adalah petunjuk Rasulullah SAW. Sementara itu, Beliau adalah orang yang telah menunaikan kedua kewajiban itu lahir maupun batin, dengan sebaik-baiknya. Meskipun Beliau SAW adalah orang yang memiliki kesempurnaan dan tekad serta keadaan yang begitu dekat dengan pertolongan Allah, namun Beliau tatap saja menjadi orang yang senantiasa mengerjakan shalat malam sampai kedua kakinya bengkak. Bahkan Beliau juga rajin berpuasa, sampai-sampai dikatakan oleh orang-orang bahwa Beliau tidak berbuka. Beliau juga berjihad di jalan Allah. Beliau pun berinteraksi dengan para shahabatnya dan tidak menutup diri dari mereka. Beliau sama sekali tidak pernah meninggalkan amalan sunnah dan wirid-wirid di berbagai kesempatan yang seandainya orang-orang yang perkasa di antara manusia ini berupaya untuk melakukannya niscaya mereka tidak akan sanggup melakukan seperti yang Beliau lakukan. Allah SWT memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk menunaikan syari’at-syari’at Islam dengan perilaku lahiriyah mereka. Sebagaimana Allah juga memerintahkan mereka untuk mewujudkan hakikat-hakikat keimanan dengan batin mereka. Salah satu dari keduanya tidak akan diterima, kecuali apabila disertai “teman” dan pasangannya.”

  1. Taat Kepada Allah dan Rasul-Nya
    Allah SWT berfirman :
    “(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah kemenangan yang besar”. (QS. an-Nisa ; 13 ) “Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan Kami patuh”. dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung”.(QS. an-Nuur ; 51)
    “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”. (QS. an-Nisa ; 80 )
    “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan”.(QS. al-Anfal ; 24 )

Ketika menjelaskan kandungan pelajaran dari ayat ini, Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan ,” Sesungguhnya kehidupan yang membawa manfaat hanyalah bisa digapai dengan memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang tidak muncul pada dirinya istijabah/sikap memenuhi dan mematuhi seruan tersebut maka tidak ada kehidupan sejati padanya. Meskipun sebenarnya dia masih memiliki kehidupan ala binatang yang tidak ada bedanya antara dia dengan hewan yang paling rendah sekalipun. Oleh sebab itu kehidupan yang hakiki dan baik adalah kehidupan pada diri orang yang memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya secara lahir dan batin. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar hidup, walaupun tubuh mereka telah mati. Adapun selain merekaadalah orang-orang yang telah mati, meskipun badab mereka masih hidup. Oleh karena itulah maka orang yang paling sempurna kehidupannya adalah yang paling sempurna di antara mereka dalam memenuhi seruan dakwah Rasulullah SAW. Karena sesungguhnya di dalam setiap ajaran yang Beliau dakwahkan terkandung unsur kehidupan sejati. Barang siapa yang luput darinya atau sebagian darinya, maka itu artinya dia telah kehilangan sebagian unsur kehidupan, dan di dalam dirinya mungkin masih terdapat kehidupan sekadar dengan besarnya istijabahnya terhadap Rasulullah SAW “.

  1. Cinta dan Benci Karena Allah
    Allah SWT berfirman :
    “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. meraka Itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung”. (QS. al-Mujadalah ; 22 )

Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan tidak memberi juga karena Allah. Maka sungguh dia telah menyempurnakan imannya “. (HR. Abu Dawud)
“Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai aku lebih dicintainya daripada orangtuanya dan anak-anaknya”. (HR.Bukhari)

  1. Berinfak di Kala Senang Maupun Susah
    Allah SWT berfirman :
    “ 133. dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
  2. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
  3. dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (QS. Ali-Imron ; 133- 135 ) “ Alif laam miin. Kita (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka”. (QS.Al-Baqarah 1-3 )

Syaikh as-Sa’di memafarkan, infak yang dimaksud dalam ayat di atas mencakup berbagai infak yang hukumnya wajib, seperti zakat, nafkah untuk istri dan dan kerabat, budak dan lain sebagainya. Demikian juga ia meliputi infak yang hukumnya sunnah melalui berbagai jalan kebaikan. Di dalam ayat di atas Allah menggunakan kata min yang menunjukkan makna sebagian, demi menegaskan bahwa yang dituntut oleh Allah hanyalah sebagian kecil dari harta mereka, tidak akan menyulitkan dan memberatkan bagi mereka. Bahkan dengan infak itu mereka sendiri akan bisa memetik manfaat, demikian pula saudara-saudara mereka yang lain. Di dalam ayat tersebut allah juga menginatkan bahwa harta yang mereka miliki merupakan rezki yang dikaruniakan oleh Allah, bukan hasil kekukatan mereka semata. Oleh karena itu Allah memerintahkan mereka untuk mensyukurinya dengan cara mengeluarkan sebagian kenikmatan yang diberikan Allah kepada mereka dan untuk berbagi rasa dengan saudara-saudara mereka yang lain.

  1. Memiliki Hati Yang Selamat
    Allah SWT berfirman :
    “(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”, (QS. as-Syu’araa ; 88-89)

Abu Utsman an-Naisaburi ra mengatakan tentang hakikat hati yang selamat, “yaitu hati yang terbebas dari bid’ah dan tenteram dengan sunnah “
Imam al-Baghawi ra. mengatakan bahwa hakikat hati yang selamat itu adalah, “ Hati yang bersih dari syirik dan keragu-raguan. Adapun dosa, maka tidak ada seorangpun yang bisa terbebas darinya. Ini adalah pendapat mayoritas ahli tafsir.”
Imam al-Alusi ra. juga menyebutkan bahwa terdapat riwayat dari para ulama salaf seperti Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, Ibnu Sirin dan lain-lain yang menafsirkan bahwa yang dimaksud hati yang selamat adalah, “ Hati yang selamat dari penyakit dan kemunafikan”.
Ibnul Qayyim ra. mengatakan,” Pengertian paling lengkap tentang hati yang selamat adalah hati yang terselamatkan dari segala syahwat yang menyelisihi perintah Allah dan larangan-Nya. Hati yang bersih dari segala macam syubhat yang bertentangan dengan berita dari-Nya. Oleh sebab itu, hati semacam ini akan terbebas dari penghambaan kepada selain-Nya. Dan ia akan terbebas dari tekanan untuk berhukum kepada selain Rasul-Nya”. Beliau (Ibnul Qayyim ra) juga menambahkan, karakter dari si pemilik hati yang selamat itu ,”…apabila dia mencintai maka cintanya karena Allah. Apabila dia membenci maka bencinya karena allah. Apabila dia memberi maka juga karena Allah. Apabila dia mencegah / tidak memberi maka itupun karena Allah”
Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “ Hati yang selamat artinya yang bersih dari ; kesyirikan, keragu-raguan, mencintai keburukan, dan terus menerus dalam bid’ah dan dosa-dosa. Konsekuensi bersihnya hati itu dari apa-apa yang disebutkan tadi adalah ia memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengannya. Berupa keikhlasan, ilmu, keyakinan, cinta kebaikan dan memandang indah kebaikan itu di dalam hati, dan juga kehendak dan kecintaannya pun mengikuti kecintaan Allah, hawa nafsunya tunduk mengikuti apa yang datang dari Allah”.
Demikianlah yang dapat saya sampaikan semoga bermanfaat
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

(Redaksi Penajournalis.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *