
Penajournalis.com, – PERNIKAHAN AGUNG WANITA SURGA
- Motivator Sejati Penuh Kasih
Muhammad diangkat jadi Rasul utusan Allah di usia 40 tahun. Ini bukan sekedar angka. Para ulama sepakat usia 40 adalah usia yang menandakan kematangan emosi, kedewasaan akal, dan jiwa yang relatif lebih tenang dan bersyukur dalam menghadapi beban masalah.
Rata-rata pemimpin negara di dunia berkuasa dan meraih puncak sukses kepemimpinannya pada usia 40 tahun-an.
Hanya usia 40 satu-satunya angka usia yang disebut dalam Al Quran, yakni pada QS. Al Ahqaf ayat 15. Maka kata ulama lagi, jangan main-main ketika sudah masuk usia 40, karena watak dan perilaku jelek pun (jika dimiliki), pada usia tersebut akan sulit untuk memperbaikinya, seolah sudah melekat dan bisa terbawa hingga akhir hayat. Wallahu’alam.
Sebelum turunnya wahyu kenabian pada usia tersebut, Muhammad SAW sering bermimpi. Mimpi melihat Jibril yang memanggil-manggil namanya.
Saking seringnya beliau bermimpi yang membuat hatinya gundah, beliau pun bercerita kepada Khadijah.
“Itu adalah kabar gembira, suamiku. Sesungguhnya Allah akan selalu memberikan kebaikan kepadamu.”
Setelahnya beliau senang menyendiri di Gua Hira. Beliau menerima wahyu untuk pertama kali di Gua Hira pada tanggal 17 bulan Ramadhan. Beliau didatangi malaikat yang menyuruhnya membaca. “Iqra”, bacalah. Itulah lima ayat yang pertama kali turun yakni QS Al Alaq ayat 1-5. Setelah itu malaikat pergi, Rasul mengikuti keluar gua. Terdengar suara dari langit.
“Wahai Muhammad, engkau adalah Rasulullah dan aku adalah Jibril.”
Rasul melihat langit, saat itu Jibril menyerupai seorang laki-laki yang kakinya bersih berada di langit.
Nabi masih berhenti dan melihatnya terpukau tak bergerak dari tempatnya berdiri. Demikian pun saat melihat langit di bagian lain, beliau hanya terpaku sampai kemudian utusan Khadijah menemukannya di tempat sangat tinggi dan mengajak pulang.
Saat sampai rumah, Khadijah melihat kondisi badan suaminya menggigil ketakutan dan raut muka berubah.
Dengan lembut ia bertanya, “Wahai Abu Qosim, kemanakah engkau hari ini? Demi Allah aku mengutus seseorang mencarimu tapi tidak mendapatkanmu.”
Muhammad menjawab tentang apa yang ia lihat dan saksikan masih dengan kondisi menggigil dan ketakutan.
“Selimuti aku … selimuti aku.”
Khadijah menuruti.
“Aku takut pada diriku sendiri.”
Khadijah yang cerdas, mencerminkan kesempurnaan imannya, ia berkata menenangkan sang suami kembali.
“Sekali-kali tidak (jangan takut)! Bergembiralah, karena demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya, kau laki-laki mulia yang senang menyambung tali kekeluargaan, jujur berkata, menanggung beban, membantu orang miskin, menjamu tamu dan membantu yang kesusahan.”
Akhirnya Khadijah mengakhiri perkataannya dengan kalimat sempurna. Kalimat ini bak suara sang motivator sejati penuh kasih dalam kehidupan Muhammad. Bahwa untuk tugas ini lah Khadijah akan totalitas mendampingi.
“Tenang dan kuatkan dirimu, wahai anak pamanku. Demi jiwa Khadijah yang ada di tangan-Nya, sungguh aku sangat berharap engkau menjadi Nabi bagi umat ini.”
Ini seolah kalimat yang sudah terpendam bertahun-tahun lamanya dan menemukan momen yang pas untuk diucapkan Khadijah sebagai ungkapan verbal yang kuat.
Khadijah akhirnya mengajak Nabi menemui Waraqah Bin Naufal yang saat itu sudah renta dan buta.
“Jelaskan padaku, siapa Jibril?” tanya Khadijah demi mendengar Nabi selalu menyebut nama itu.
“Maha suci Allah, demi jiwa Waraqah dalam tangan-Nya, itu adalah Namus yang pernah mendatangi Musa. Sungguh, Muhammad adalah Nabi bagi umat ini. Seandainya aku masih hidup, saat kau diusir kaummu.”
Rasul bertanya, ” Apakah mereka akan mengusirku?”
“Ya, tak seorangpun yang membawa ajaran seperti yang kau bawa melainkan pasti dimusuhi. Jika saja aku masih hidup, aku akan membelamu sekuat tenaga.”
Tak lama kemudian Waraqah meninggal dan wahyu pun berhenti.
Dengan penjelasan Waraqah, Khadijah semakin yakin kalau suaminya adalah seorang nabi, akan tetapi beliau sering berkata ragu dan berpikiran lain.
“Aku takut, yang mendatangiku bukan Jibril melainkan perbuatan dukun yang akan mencelakaiku.”
Jika demikian, Khadijah akan segera menepisnya dan menyemangati beliau kembali.
“Dia malaikat Allah. Bisakah engkau memberitahuku jika temanmu (Jibril) mendatangimu lagi?”
“Tentu.”
Tatkala Jibril datang menemui Rasul, beliau segera berkata,”Khadijah, Jibril mendatangiku lagi.”
“Berdirilah suamiku, duduklah di paha sebelah kiriku.” Rasul mengikuti.
“Apakah engkau melihatnya?”
“Ya.”
“Sekarang pindahlah ke sebelah kanan.” Nabi pun berpindah.
“Engkau benar melihat?”
“Ya.”
Kemudian Khadijah meminta Nabi duduk di pangkuannya seraya berkata,”Apakah engkau benar-benar melihatnya?”
“Ya, saya melihatnya.”
Kemudian Khadijah melepas kerudungnya dan berkata, “Apakah engkau masih melihatnya?”
“Tidak.”
Para ulama mengatakan bahwa malaikat akan bersembunyi jika seorang wanita meninggalkan kerudungnya, berbeda dengan setan.
“Bergembiralah anak pamanku, demi Allah dia adalah malaikat dan bukan setan.”
Setelahnya Rasul menjadi tenang dan gembira. Beliau kemudian kembali ke gua untuk melihat Jibril, namun sayangnya Jibril tidak muncul dalam jangka waktu yang lama membuat Nabi sedih dan mulai berprasangka buruk pada dirinya sendiri.
Tatkala beliau benar-benar sangat sedih dan hampir putus asa dalam gua, tiba-tiba muncullah Jibril dan berkata, “Wahai Muhamad, sungguh engkau adalah seorang Rasul.”
Rasulullah pun kembali pulang dan menceritakan semuanya kepada khadijah.
“Yakinlah, Allah tidak akan menghinakan utusannya sampai kapanpun.”
Dalam riwayat lain dikisahkan kepulangannya ini juga membuat Baginda Nabi gemetar, minta diselimuti dan dikompres dengan air dingin.
Khadijah lalu mengompres Nabi dan membiarkan beliau istirahat tidur.
Saat tidur pulas mendadak tubuhnya gemetar hebat, susah napas dan air keringat bercucuran di kening. Beliau terbangun dan mendengar Jibril menyampaikan wahyu, yakni QS Al Mudatsir 1-7.
” Hai orang yang berselimut, bangunlah dan berilah peringatan, lalu agungkanlah nama Tuhanmu …”
Khadijah yang melihat Rasul menerima wahyu dan bertambah ketakutan segera menghampiri.
“Istirahatlah kembali,” sarannya.
“Tidak, wahai Khadijah. Tak ada lagi waktu untuk tidur dan istirahat. Jibril sudah memerintahkanku untuk memberi peringatan kepada manusia dan menyeru agar beibadah kepada Allah saja.”
“Siapa yang akan saya seru? Dan siapa yang akan menerima seruanku?”lanjutnya.
Kemudian wahyu turun lagi yakni QS. Ad-Dhuha: 1-11.
Menurut tafsir ulama surat ini turun untuk menguatkan Nabi bahwa Allah bersumpah bahwa Dia telah memuliakan nabi dalam seluruh harinya.
Saat ditinggal orang tua, Allah menitipkan kepada kakek dan pamannya. Saat dalam kesesatan Allah memberi petunjuk, saat dalam kekurangan, Allah memberikan kecukupan.
“Siapa yang akan aku dakwahi? Akankah mereka mempercayaiku?”
“Dengar wahai suamiku,” kata Khadijah yang membuat Rasulullah mendekat.
“Aku bersaksi tidak ada Ilah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.”
Kesaksian Khadijah terkasih membuat Rasulullah tersenyum dan memandang wajah istrinya yang mulia. Hilanglah rasa sedih, was-was pada diri Rasul.
Ibnu Atsir berkata,”Khadijah adalah makhluk Allah pertama yang masuk Islam yang tidak didahului siapapun baik laki-laki maupun perempuan.”
Ibnu Ishaq mengatakan bahwa Khadijah adalah wanita pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan membenarkan apa yang telah diturunkan kepadanya.
Rasulullah bersabda, “Allah tidak menggantikan untukku wanita yang lebih baik darinya. la beriman kepadaku di saat orang lain ingkar kepadaku, ia mempercayaiku di saat orang lain mendustakanku, ia menolongku dengan hartanya di saat orang lain tidak ada yang menolongku, dan Allah telah mengaruniakan kepadaku putra (dari hasil perkawinan dengan) nya sedang wanita-wanita lain tidak.”
-Bersambung-
*WikanRusdi
Sumber:
- Khadijah, Teladan Agung Wanita Mukminah karya Ibrahim Muhammad Hasan Al Jamal
- Biografi 35 Shahabiyah Nabi, karya Syaikh Mahmud Al Mishri
- Dalam Naungan Cinta Al Haramain, karya Wikan Rusdi. (Ustadz Aceng Anwar S.kom.I)















