
Penajournalis.com, – Wawancara EksklusifMariska Lubis : ”Industri Halal, Membangun Paradigma Baru” Bersama Presiden WHITA. Betha A. Djardjis (30/08/2020)
“Persoalan label halal, sebetulnya bukan hanya berfokus pada bagaimana memberikan sertifikasi halal pada setiap produk makanan, atau kosmetika saja. Tetapi lebih luas dari itu yakni bagaimana menciptakan sistem manajemen halal pada setiap urutan proses produksi consumer goods, termasuk pada industri pendidikan dan industri pariwisata di Indonesia,” kata Mariska Lubis, Sekjen WHITA (World Halal Industry and Trade Alliace) pada kesempatan berbincang di Jakarta dengan Penajournalis.com pada Jumát (29/8/2020) lalu.
“Kalau hanya sekadar memberikan sertifikasi halal, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah lama melakukan itu. Tetapi yang dibutuhkan pada periode pembenahan saat ini–akibat pandemi covid 19–adalah bagaimana para pemikir dan pelaku usaha muslim di Indonesia dapat membangun konsep utuh tentang industri halal yang dapat meningkatkan nilai tambah bagi perekonomian umat,” tambah Mariska Lubis.

Mariska menambahkan, jika saja konsep utuh tentang industri halal di Indonesia bisa dilaksanakan dengan baik, maka tidak perlu repot mencari pasar karena captive marketnya sudah tersedia dengan 85% penduduk beragama Islam. Selain itu, produk halal yang tersedia bisa diekspor ke manca negara terutama negara-negara muslim dan negara yang telah mengakui dan membutuhkan produk halal bagi warganya.
“Saat ini Jepang dan Korea saja sudah mengakui akan produk halal yang ternyata memang hygienis dan amat dibutuhkan warga negaranya, terlebih pada era pandemi saat ini. Hal mana faktor kebersihan dan penerapan protokol kesehatan wajib dilaksanakan termasuk pada sektor consumer goods. Di Eropa masyarakat mulai mencari makanan halal yang diakui amat dibutuhkan sebagai jaminan rasa aman. Di kampus-kampus Jerman, telah dilakukan pemisahan mana makanan halal dan yang haram, begitu pula dengan perangkat masak, piring dan sendok,” terang Mariska lebih jauh.
Oleh karena itu menurut Mariska, prospek industri halal amat cerah, bila kita mau dan serius menekuninya dari awal proses sampai dengan finishing product. Terutama bagaimana menyiapkan satu sistem manajemen halal yang dibutuhkan.

Mariska juga menilai, Pemerintah seharusnya membackup penuh perihal produk halal ini dan tidak hanya melulu urusan bank syariah dan semacamnya, tetapi juga membantu mewujudkan entitas industri halal termasuk membangun sistem manajemen halal sebagai bagian dari potensi ekonomi nasional yang dapat membantu pertumbuhan ekonomi.
“Tantangan mewujudkan itu memang berat, terlebih harus berhadapan dengan raksasa multinational corporation (MNC) seperti Unilever yang eksis sejak dulu memproduce consumer goods, sampai-sampai ikut mengubah gaya hidup penduduk perdesaan di Indonesia. Belum lagi MNC Asia. Tetapi kita tidak hendak melawan itu secara frontal, karena tentu saja belum bisa. Karena itu, dibutuhkan suatu perencanaan sistematis membangun entitas halal lengkap dengan industri hulu sampai hilir,” tandas Mariska lagi.
“WHITA sekarang memulai dengan memperkuat basis dan jejaring UMKM terlebih dulu. UMKM amat dibutuhkan sebagai titik mula supply chain halal community yang bisa membangun kesadaran terlebih dulu dari masyarakat kita,” lanjutnya.
“Ke depan WHITA berencana menjadi semacam “KADIN” halal food. Sudah merintis kerjasama juga dengan WHITA Jepang melalui Yoshihiro Kobi, Presiden MM2001 Indonesia yang telah menjadi mualaf. Pemerintah Jepang pun amat setuju dengan halal food. Selain itu WHITA juga turun ke bawah membantu UMKM dengan permodalan, manajemen mutu dan bimbingan lain agar perekonomian kelas bawah terus bergerak di masa sulit ini,” jelas Mariska menambahkan.
Mariska menjelaskan bahwa WHITA akan merintis kerjasama dengan sekolah Diniyyah Putri di Padang Panjang Sumatera Barat yang berdiri sejak 1923 dan merupakan lembaga pendidikan rintisan dari pahlawan nasional Hj. Rangkayo Rasuna Said.
“WHITA juga memiliki idialisme membangun khazanah pendidikan yang lepas dari kepentingan kapitalisme pendidikan saat ini yang banyak memikirkan segi keuntungan dan bisnis semata. Pendidikan Islami yang mempunyai cara pandang membangun dunia pendidikan dengan karakter Islami, sadar akan pentingnya manajemen halal dan juga mandiri,” kata Mariska.
“Selain itu WHITA sejak 2017 sudah bekerjasama dengan komunitas Diaspora Minang yang mendirikan rumah makan Padang di setiap negara. Hal itu bertujuan agar produk halal Indonesia bisa dipasarkan di sana,” tambah Mariska menutup perbincangan.
(Pso)















