Penajournalis.com Jakarta 5 Juli 2025 – CEO Nusantara Centre, Yudhie Haryono, dalam sebuah puisi bertajuk “Zaman Suram,” melukiskan kepiluan mendalam atas kondisi bangsa dan hubungan pribadinya. Puisi ini menjadi metafora getir atas realita sosial-politik Indonesia yang dirasa penuh tipu daya dan ketidakadilan.
Haryono membandingkan kekasihnya dengan Jakarta dan Indonesia. Keduanya digambarkan sebagai entitas yang penuh tipu daya, suram, dan menyengsarakan. Kekasihnya, seperti Indonesia, dipenuhi oleh kemunafikan, manipulasi, korupsi, dan berbagai penyakit sosial lainnya. Kekecewaan mendalam terpancar dari bait-bait puisi yang menggambarkan ketiadaan masa depan gemilang, idealisme, dan prestasi. Semuanya, menurut Haryono, terkungkung dalam pemujaan terhadap kekuasaan, materi, dan nafsu.
Ironisnya, Haryono mengaku jatuh hati pada “revolusi” kekasihnya, seperti halnya ia jatuh cinta pada Indonesia dengan segala kekurangannya. Namun, ia menyadari defisit hati, jiwa, dan persahabatan yang melanda bangsa. Kekecewaan ini diperparah dengan gambaran alam yang ikut berduka, hujan yang tak kunjung turun sebagai protes atas korupsi para elite.
Puisi ini diakhiri dengan gambaran alam yang mati dan sekarat, merefleksikan keputusasaan sang penulis. Haryono merasa tertolak, tenggelam dalam kesuraman, dan bertanya-tanya akan masa depan. “Zaman suram,” tulisnya, menggarisbawahi kepiluan atas kondisi bangsa dan hubungan pribadinya yang penuh kekecewaan.
Puisi ini menjadi kritik tajam terhadap kondisi sosial-politik Indonesia saat ini. Bahasa puitis yang digunakan Haryono berhasil menyampaikan pesan protes dan kepiluan yang mendalam. Ia mempertanyakan perubahan yang belum terjadi di tengah maraknya korupsi dan ketidakadilan. Puisi ini layak menjadi renungan bagi kita semua.
Yohan Yudistira
Koordinator Liputan Nasional
Editor: Asep NS















