Penajournalis.com Tulungagung, 14 Juni 2026 – Menjelang datangnya bulan Suro, masyarakat Kabupaten Tulungagung kembali menghidupkan tradisi turun-temurun yang penuh makna. Bagi warga setempat, berbagai ritual penyambutan bulan suci ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan bentuk kearifan lokal dan warisan budaya Jawa yang dijaga keberadaannya.
Salah satu warga Tulungagung, Rian Andre, menjelaskan bahwa bulan Suro bagi masyarakat Jawa memiliki kedudukan istimewa sebagai waktu yang tepat untuk melakukan tirakat dan mencari keselamatan.
“Bulan Suro ini adalah simbol yang dinobatkan dalam kalender Jawa, khususnya bagi kami di Tulungagung, sebagai momen untuk menjalankan ritual keselamatan,” ujar Rian.
Salah satu tradisi yang paling ditunggu dan dijalani adalah laku semedhi. Istilah ini berasal dari bahasa Sanskerta: sam yang berarti besar, dan adhi yang bermakna bagus atau indah. Secara hakikat, semedhi bertujuan untuk meraih budi yang besar, luhur, dan suci.
Dalam pandangan masyarakat kejawen, semedhi adalah jalan untuk mencapai hubungan langsung dengan Tuhan, atau laku tarekat dan hakikat guna meraih makrifat. Melalui laku ini, manusia diajak untuk menyadari jati dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan (sangkan paraning dumadi) serta senantiasa waspada terhadap godaan dan perbuatan buruk.
Untuk mencapai apa yang disebut rasa sejati, laku semedhi dilakukan melalui tahapan: eneng (menahan diri dan diam), ening (menjernihkan pikiran), enung (merenung dan mawas diri), hingga nir ing budi (keadaan suwung yang tenang). Langkah ini diyakini menjadi jalan untuk menemukan kehadiran Tuhan di dalam hati sanubari.
Menjelang malam 1 Suro nanti, warga Tulungagung biasanya akan mencari tempat-tempat yang dianggap sakral untuk melakukan laku semedhi, seperti puncak gunung, kawasan yang sepi, makam keramat, Candi Dadi, Candi Gayatri, hingga pesisir pantai.
“Kami masyarakat Tulungagung menyambut bulan Suro dengan antusias. Mari kita jalani sesuai kepercayaan masing-masing, sebagai simbol menelusuri asal-usul kehidupan dan membersihkan hati kepada Gusti Yang Maha Esa,” tutup Rian.
Miswanto
Editor: Fuad
Semedhi: Kearifan Lokal Masyarakat Tulungagung Menyambut Bulan Suci Suro















